#KamisNonton: Jejak Emansipasi dalam Super Didi dan Surat Cinta Untuk Kartini

Hari Kamis minggu ini bertepatan dengan Hari Kartini. Menariknya, dalam dua film Indonesia yang tayang bertepatan dengan Hari Kartini ini bisa kita temukan jejak-jejak emansipasi wanita. #KamisNonton kali ini akan membahas kedua film tersebut, yakni Surat Cinta Untuk Kartini dan Super Didi.

 

Surat Cinta Untuk Kartini

Sinopsis

Surat Cinta Untuk Kartini bercerita tentang relasi Raden Ajeng Kartini dengan tukang pos bernama Sarwadi. Ia merupakan tukang pos yang baru pindah dari Semarang. Di hari pertamanya bertugas di Jepara, Sarwadi mengantarkan surat untuk Kartini. Menyaksikan kebersahajaan dan paras ayu Kartini, Sarwadi jatuh hati.

Lingkungan sekitar justru mencibir perilaku wanita pujaan Sarwadi tersebut. Mujur, sahabat Sarwadi contohnya. Ia menganggap Kartini sebagai sosok wanita yang aneh karena lancang ingin mendobrak adat dan tradisi. Padahal adat dan tradisi, pada zaman itu, merupakan hal yang tabu untuk dilanggar.

Kegalauan Sarwadi berubah menjadi kekaguman ketika ia mengetahui lebih dalam jalan pikiran Kartini. Bangsawan Jepara itu ingin mendirikan sekolah bagi kaum bumiputra supaya kaum bumiputra lebih maju. Dunia Kartini dan Sarwadi si tukang pos tiba-tiba porak-poranda ketika Kartini dilamar oleh seorang Bupati Rembang untuk dijadikan istri keempat.

 

Film Fiksi yang Memasukkan Fakta Sejarah

via instagram.com/mncp_movie

via instagram.com/mncp_movie

Sosok Sawardi, si tukang pos yang diperankan Chicco Jerikho ini, tidak akan kamu temukan dalam berbagai literatur sejarah mengenai Kartini. Hal itu karena karakter tukang pos ini memang murni rekaan.

Karena itu sewaktu menonton film Surat Cinta Untuk Kartini ini, tontonlah sebagai film fiksi yang memasukkan fakta-fakta sejarah. Tetap menarik kok. Dengan begitu kamu bisa melihat Kartini secara lebih manusiawi. Kartini sebagai sosok perempuan yang bernapas, makan, dan bisa jatuh cinta; terlepas dari gelar pahlawan yang disematkan pemerintah kepadanya.

 

Super Didi

Sinopsis

Film Super Didi menceritakan tentang repotnya mengurus anak. Arka, seorang arsitek muda, harus mengurus kedua putri kecilnya sendirian. Wina istrinya mendadak harus ke luar negeri selama dua minggu.

Dalam dua minggu itu, Arka harus jumpalitan kalang kabut mengurus kedua putrinya. Ditambah pada saat yang sama, ia juga mendapat tanggung jawab besar menyelesaikan suatu proyek yang sangat penting dalam karirnya.

Harusnya sih, kehadiran Opa, Oma Sayang, dan Mbak Ami dapat membantu Arka. Nyatanya, mereka malah membuat keadaan makin kacau. Jadi sanggupkah Arka menjalani kedua hal penting dalam hidupnya itu?

 

Emansipasi dan Perkara Mengurus Anak

via twitter.com/Film_SuperDidi

via twitter.com/Film_SuperDidi

Dalam pandangan lama, perkara mengurus rumah dan anak menjadi tanggung jawab perempuan. Laki-laki sebagai pencari nafkah utama biasanya tinggal tahu beres saja. Karena itu dalam Super Didi, jejak emansipasi wanita itu bisa kita lihat ketika Arka, si suami harus turun tangan mengurus anak.

Yah, memang sih dalam film tanggung jawab mengurus anak secara penuh itu hanya berlangsung selama beberapa minggu. Meski demikian, setidaknya sudah cukup terbukti bahwa urusan rumah tangga adalah sebuah bentuk kompromi. Ini bukan cuma jadi tanggung jawab perempuan.

Tapi nggak usah berpikir bahwa Super Didi isinya penuh dengan ceramah soal relasi gender dalam rumah tangga. Dari trailer-nya,  Super Didi kelihatan condong jadi tontonan keluarga yang ringan.

 

Itulah dua film yang bisa jadi panduan kamu sebelum atau sewaktu ke bioskop minggu ini. Selalu nantikan #KamisNonton untuk tahu film-film Indonesia menarik tiap minggunya!