5 Alasan Kenapa Sebelum Menikah Kamu Boleh Gonta-ganti Pacar

via blackloveadvice.com

Barangkali kamu sering kesal pada orang yang sering gonta-ganti pacar. Perbuatan itu menimbulkan banyak stigma seperti tidak setia, playboy/playgirl, murahan, sok kecakepan, haus kasih sayang, dan lain sebagainya. Tapi pernahkah kamu tahu apa alasannya orang itu putus dengan pacarnya dan mencari yang baru? Jangan-jangan dia punya jawaban yang sangat masuk akal.

Nyoozee tertarik untuk membeberkan alasan kenapa seseorang gonta-ganti pacar. Namun sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, ada baiknya kamu pahami dulu definisi gonta-ganti pacar. Pertama, perlu ditekankan bahwa gonta-ganti pacar berbeda dengan mempunyai banyak pacar di waktu yang sama. Itu namanya selingkuh, sangat tidak dianjurkan dalam suatu hubungan percintaan. Ini sebenarnya merujuk pada mencari pacar karena ia sudah tidak baik lagi untukmu.

Kedua, jangan juga mengartikan gonta-ganti pacar ini dengan sesuatu yang dilakukan cuma untuk menyenangkan hati, sebuah hiburan demi mengusir kepenatan. Itu namanya rekreasi. Ingat, gonta-ganti pacar bukanlah sekadar rekreasi. Kalau memang gonta-ganti pacar adalah rekreasi, bagaimana mungkin ia bisa bikin hati galau?

Nah, inilah dia alasan kenapa kamu boleh gonta-ganti pacar sebelum menikah.

 

Menguji Mental

via independentnewslanka.wordpress.com

via independentnewslanka.wordpress.com

Jangan sangka memutuskan hubungan dengan seseorang itu mudah. Ada saat ketika kamu bimbang karena merasa hubunganmu tidak bisa diselamatkan. Saat itulah kamu akan memikirkan baik dan buruknya sudah tidak bersama sang pacar. Membayangkan hari tanpa ucapan selamat pagi, tiada lagi pertanyaan sudah makan apa belum, dan hilangnya yel-yel pemberi semangat, membuatmu lumayan gusar.

Memulai hubungan baru pun susahnya setengah mati. Kamu harus mulai semuanya dari awal. Tidak ada yang namanya buku petunjuk untuk orang pacaran secara universal, sebab sifat orang berbeda satu dengan lainnya. Seperti sebelumnya, akan ada trial and error, dan semua itu akan membentuk pribadi tahan banting.

Gonta-ganti pacar akan membuat mentalmu teruji. Semakin banyak menjalani hubungan dengan orang lain, maka kamus percintaanmu akan semakin tebal. Setelah putus, tidak akan ada lagi pertanyaan, “kenapa sakit hati ini tak pernah hilang?”, tapi yang ada, “ketemu pacar macam apa lagi ya?”

 

Pacaran Tidak Selalu Menuntut Pelaminan

via flickr.com

via flickr.com

Banyak pasangan yang pacaran dari masa sekolah untuk kelak bertahan menjadi suami-istri. Itu bagus dan perlu diapresiasi. Tapi ini agaknya menunjukkan bahwa pasangan itu seakan-akan telah mendahului nasib. Biasanya ucapan semacam itu akan muncul dari mulut abege-abege labil yang hidupnya masih nebeng orang tua. Mereka tidak tahu bagaimana susahnya setelah mengikat janji di pelaminan. Mereka belum dihadapkan pada tagihan listrik, cicilan rumah, dan tanggungan hidup lainnya.

Kalaupun ada yang serius pacaran dan sudah punya penghasilan untuk hidup berdua, mereka biasanya akan jawab, “doakan ya,” atau, “lagi coba untuk jalanin aja.” Itu jawaban sama dengan konteks mendahului nasib. Mirip seperti abege-abege labil. Bedanya, mereka cuma sedikit dewasa untuk mengontrol omongan dan janji-janji. Barangkali mulai ada rasa takut kalau nanti tiba-tiba sang pacar kabur, atau amnesia mendadak.

Makanya, selagi masih muda, dan rasanya perjalanan masih panjang untuk ke pelaminan, santai sajalah menghadapi lawan jenis. Kalau pacarmu mulai rusuh, masih banyak yang lain yang mungkin lebih baik. Itu boleh, sebab bagaimanapun, pacaran tidak menuntut sampai ke pelaminan.

 

Romantisme Ala Pacaran Tidak Bertahan Lama

via understandingrelationships.com

via understandingrelationships.com

“Beb, aku sayang kamu.”
“Iya, aku juga sayang kamu.”

Begitulah kalimat yang sering muncul pada orang yang dirundung asmara. Penting, bahkan sangat penting, untuk mengatakan sayang dalam sebuah hubungan. Tapi seberapa pentingkah ucapan jika ia hanya ucapan?

Banyak psikolog yang mengatakan, hubungan seumur hidup itu ada. Tapi yang dibutuhkan tidak hanya romantisme, namun juga kesediaan untuk menjadi partner atau teman hidup. Catatan pentingnya, semua itu perlu dilakukan dengan cara hidup bersama dengan pasanganmu. Kalian harus mencoba hal baru bersama, berbagi passion dan menjalaninya bersama, dan berpetualang bersama untuk memenuhi kebutuhan diri.

Karena tidak adanya kebersamaan yang pasti tetap, hubungan pacaran menjadi rentan membosankan. Kamu terpaksa mengeluarkan kata romantis hanya karena harus, bukan karena butuh. Kalau cintamu hanya sekedar formalitas semacam itu, akan  muncul peluang untuk keterbagian hati pada cinta yang baru. Dalam pacaran, fenomena semacam ini sangat umum terjadi. Dan kalau kamu salah satu yang pernah merasakannya, yakinlah bahwa kamu tidak salah.

 

Terlalu Terikat Pacar Bikin Prestasimu Tersendat

via time.com

via time.com

Buang jauh-jauh kalimat, “pacaran bikin saya semangat belajar.” Istilah semacam itu sangat dangkal dan normatif dalam sebuah hubungan. Memberi semangat dalam pacaran mungkin tidak akan lebih dari sekadar yel-yel, “Semangat ya sayang. Aku tahu kamu bisa.” Padahal, dalam setiap perjuanganmu mengejar prestasi, semangat yang kamu butuhkan lebih dari itu. Mungkin kamu jadi menuntut untuk didampingi sepanjang waktu, yang tidak mungkin akan terwujud dalam status pacaran.

Anggaplah bahwa mungkin tidak ada orang yang betul-betul rela membiarkan pacarnya punya prestasi segudang. Bagaimanapun, prestasi membutuhkan banyak pengorbanan yang seringkali perlu ditempuh dengan cara push to the limit. Jangankan push to the limit, mengerjakan proyek sampai lupa tidur saja pacarmu mungkin akan marah dan bilang, “Kamu dibilangin kok nggak pernah nurut sih? Nanti kalau sakit gimana?”

Jika kamu seorang yang penurut, mungkin akan menganggap itu sebagai perhatian. Tapi kalau kamu seorang yang rebel, lebih baik akhiri hubungan dengan orang seperti itu dan cari lagi yang baru.

 

Sebelum Pacaran: Pilih yang Terbaik, Sudah Menikah: Terima Apa Adanya

via www.empowerednewswire.com

via www.empowerednewswire.com

Pada masa-masa pacaran, ada saat ketika kamu memaksakan diri untuk bertahan padahal hatimu begitu sakit. Kamu terlalu menganggap pacarmu adalah yang terbaik, dan tiada orang lain yang bisa menggantikan dirinya. Padahal, kamu hanya tidak pernah mencoba untuk melangkah lebih jauh, membuka kesempatan bagi hatimu untuk berpetualang mencari pasangan baru.

Selagi statusmu masih belum menikah, teruslah mencari yang terbaik. Sebab tidak ada perjanjian tertulis dalam pacaran. Tidak ada keharusan untuk bertahan berapa lama. Asalkan kamu merasa tidak cocok, sebaiknya kamu mundur. Kalau pacarmu berkhianat, cari saja yang baru.

Itu akan berguna jika statusmu sudah menikah. Kalau sudah selesai berpetualang dan menemukan yang terbaik, maka terima pasanganmu apa adanya. Jangan saling mengecewakan, sebab perjanjianmu sudah tertulis di dalam buku nikah.

 

Akhir kata, jadikan jumlah mantan sebagai indikator kesuksesanmu di masa mendatang. Semakin banyak jumlah mantanmu, semakin banyak kamu mengenal sikap lawan jenis. Dengan begitu, pengetahuanmu tentang cara mengatasi masalah dalam hubungan pun semakin terasah. Kalau sudah begitu, kamu sudah cukup dikatakan berpengalaman untuk menghadapi bahtera rumah tangga yang penuh badai.

Begitulah alasan kamu boleh gonta-ganti pacar. Tapi, perlu diingat; ini adalah pilihan, bukan keharusan. Tidak mau gonta-ganti pacar, atau bahkan tidak mau pacaran pun terserah kamu.

Bagaimana, apakah kamu setuju dengan konsep gonta-ganti pacar? Atau kamu punya pendapat berbeda? Yuk bagikan di kolom komentar!

 


Featured image via blackloveadvice.com