Benarkah Cula Badak Berkhasiat Obat?

Mendengar kata badak pasti yang terlintas di pikiran kita adalah seekor hewan yang besar. Ia berkulit tebal dan memiliki sebentuk tanduk yang disebut cula di bagian tengah dahinya. Cula badak bisa berjumlah satu ataupun dua.

Cula badak, seperti gading pada gajah, merupakan ciri khas yang dimiliki badak. Bagi badak, cula merupakan alat mempertahankan diri dari serangan musuhnya. Sayangnya cula ini tidak efektif untuknya melawan pemburu. Bahkan cula ini menjadi alasan mengapa ia diburu.

 

Mengapa Cula Diburu?

via: npr.org

Cula badak memiliki nilai jual yang tinggi. Maka itu manusia memburu badak, lalu menjadikan culanya hiasan dinding, jimat, dan bahan pengobatan tradisional. Miris sekali bagaimana manusia merasa lebih membutuhkan cula badak daripada badaknya sendiri.

Meski mendapat perlindungan internasional dan perburuan badak dianggap melanggar ketentuan, tetap saja angka populasi badak semakin menurun. Tidak heran jika kehidupan binatang ini terancam punah.

 

Obat dari Cula Badak

via wwf.org.za

Permintaan yang tinggi akan cula badak sebagai bahan obat tradisional dan ornamen/hiasan di Asia memicu pembantaian badak besar-besaran, khususnya di Afrika. Banyak orang percaya bahwa cula ini memiliki khasiat obat.

Cula badak dipercaya bisa mengobati kanker, menurunkan panas, menenangkan syaraf, menyembuhkan bengkak tumor, muntah darah, mimisan, menghilangkan racun dalam tubuh, bahkan dipercaya sebagai obat kuat.

Orang-orang mengolah cula dengan menggosok pangkal cula bersama sedikit air. Sari pati hasil gerusannya kemudian diminumkan. Ada juga yang memotong cula kecil-kecil kemudian dikeringkan jadi serbuk.

Walaupun sudah banyak badak jadi korban, sebenarnya manfaat cula badak belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Bahkan berdasarkan penelitian, para ahli pun menyatakan bahwa tidak ada yang istimewa dari serbuk atau pati cula. Mungkinkah efek penyembuhan ini hanya karena placebo effect, pasien jadi sembuh karena ekspektasi obatnya akan manjur padahal tidak punya efek apapun?

Sebab sebenarnya cula badak terbuat dari keratin, kandungan yang mirip dengan kuku manusia. Hanya ketebalan dan besarnya saja yang berbeda. Jadi mengonsumsi cula sebenarnya sama seperti kita mengkonsumsi kuku.

Tentu kamu sadar bahwa mengonsumsi kuku tidak memiliki sifat obat apapun. Kalaupun ada, bukankah lebih efektif mengumpulkan sisa pemotongan kuku sendiri untuk jadi obat daripada membunuh badak dan mengambil culanya?

 

via dromfje.top

 

Coba deh lebih bijaksana lagi. Manfaat yang kita harapkan dari cula badak hanyalah sebatas mitos. Jangan sampai mitos-mitos yang kita percayai malah mengancam kelangsungan hidup, bahkan keberadaan spesies suatu makhluk hidup.

Lagipula, kalau pengobatan dengan cula badak benar-benar tidak efektif, bukan hanya nyawa si badak yang hilang sia-sia; nyawamu pun terancam demikian. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pengobatan dengan cula ini tidak terbukti efektif lho.

Masih ada alternatif lain yang bisa manusia gunakan untuk pengobatan tradisional, yang sudah terbukti manfaatnya secara medis. Tanaman-tanaman berkhasiat obat misalnya. Tapi kalau memang pengobatan tradisional tidak efektif untukmu, mungkin kamu mau mencoba beralih pada bantuan teknologi medis yang lebih canggih?

 


featured image via livescience.com