Bukan “Membuang Sampah”, Tapi “Meletakkan Sampah”


meletakkan sampah via educationquizzes.com
via educationquizzes.com

Selama ini, telinga kita tentu familiar dengan slogan ‘jangan membuang sampah sembarangan’, atau ‘mari membuang sampah pada tempatnya’. Adakah dari kalimat tersebut yang menurutmu janggal? Atau setidaknya kurang tepat?

Sadar atau tidak, ada satu kata yang punya konotasi negatif dalam kalimat ajakan tersebut. Kata yang dimaksud adalah ‘membuang’.

Kenapa sih kata ‘membuang’ jadi terkesan kurang tepat dalam slogan yang sudah begitu lama kita gunakan untuk menjaga kebersihan ini?

 

meletakkan sampah via ahok.org

via ahok.org

 

Mari kita bahas terlebih dahulu tentang kata ‘membuang’ satu ini. Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘membuang’ berasal dari kata dasar ‘buang’. Kata ini punya arti lempar; lepaskan; keluarkan.

Masih mengacu pada sumber yang sama, kata dasar ‘buang’ biasa ditambahkan beberapa imbuhan. Salah satu imbuhan yang paling umum dijumpai ialah kata ‘membuang’. Nah, kata ‘membuang’ ini kemudian punya beberapa arti.

Membuang bisa berarti melepaskan (melemparkan) sesuatu yang tak berguna lagi dengan sengaja dari tangan; melemparkan; mencampakkan; menghilangkan, menghapuskan, menyia-nyiakan, memboroskan, menghukum dengan jalan mengasingkan ke tempat jauh atau terpencil; membelokkan (tentang arah, haluan, dan sebagainya); juga memutar.

 

meletakkan sampah via ibudanmama.com

via ibudanmama.com

 

Bila kamu perhatikan beragam arti di atas, kamu tentu bisa menangkap bahwa pendefinisian atas kata ini memang cenderung negatif, bukan? Apalagi tiga pendefinisian pertama yang paling identik dengan frase ‘membuang sampah’.

Konotasi negatif dari kata ‘membuang’, berdampak pada pembentukan pemahaman yang juga negatif terhadap kata kerja satu ini. Secara tidak langsung, masyarakat jadi punya pandangan bahwa kegiatan ini tidak memberikan manfaat atau bahkan tidak cukup penting untuk dilakukan.

Apalagi dengan tambahan kata ‘sampah’ di belakang kata ‘membuang’ yang semakin menguatkan pemahaman negatif di benak masyarakat. Kegiatan ini banyak diartikan sebagai kegiatan yang tidak memberikan manfaat kepada mereka karena mereka harus melemparkan sesuatu yang tidak berguna lagi.

 

meletakkan sampah via rocketdock.com

via rocketdock.com

 

‘Membuang sampah’ juga seolah bisa diartikan sebagai sebuah proses yang bisa dilakukan sembarangan saja, bukan pada tempatnya. Kalimat kasarnya, ‘ah yang penting sampahnya dibuang’. Alhasil, sosialisasi yang mengajak masyarakat melakukan kegiatan membuang sampah pun menjadi kurang efektif.

Penggunaan frase persuasif untuk ‘membuang sampah’ seolah tidak mencerminkan nilai-nilai yang baik; bahkan dapat tergolong menyimpang. Bagaimana tidak? Ketika ‘membuang sampah’ yang punya konotasi negatif disosialisasikan kepada khalayak, yang terjadi adalah sebuah proses penyerapan nilai-nilai yang menyimpang atau yang buruk.

Dalam kajian ilmu sosiologi, sosialisasi nilai-nilai (atau bentuk subkebudayaan) yang menyimpang akan berdampak pada perilaku yang menyimpang. Kamu tentu tahu dong perilaku menyimpang yang dimaksud? Banyak orang jadi sulit diarahkan untuk ‘membuang sampah pada tempat yang semestinya’, karena mereka merasa yang penting mereka sudah ‘membuang sampah’.

 

meletakkan sampah via cikalnews.com

via cikalnews.com

 

Jika terus-menerus dibiarkan, perilaku menyimpang ‘membuang sampah’ tersebut akan semakin menjadi momok yang membahayakan  lingkungan. Oleh sebab itu, dibutuhkan semacam pengendalian sosial yang tepat untuk mengakhiri sosialisasi nilai yang kurang baik dari frase ‘membuang sampah’.

Menurut Peter L. Berger, ahli sosiologi, pengendalian sosial punya arti berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang menyimpang. Bentuknya bermacam-macam. Nah, menurut Koentjaraningrat, pengendalian sosial ini bisa dilakukan melalui berbagai cara. Mulai dari pendidikan, sugesti sosial, juga dengan menonjolkan norma-norma yang ada. Mana yang paling mudah dan bisa dieksekusikan dengan segera? Tentunya dengan memberikan sugesti sosial dong.

Eh, tapi maksudnya sugesti sosial itu apa sih? Sugesti sosial dalam konteks ini maksudnya memberikan sebuah pandangan yang bisa diterima oleh masyarakat. Nah, pandangan ini adalah pandangan yang mengandung nilai-nilai baik dan tidak menyimpang. Sehingga, efeknya nanti masyarakat akan melakukan perbuatan positif yang didorong oleh pandangan tersebut.

 

meletakkan sampah via recologysanbruno,com

via recologysanbruno,com

 

Sederhananya, kita bisa memulai sugesti sosial tersebut dengan mengganti frase ‘membuang sampah’ dengan ‘meletakkan sampah’. Dengan mengubah kata tersebut, konotasinya pun akan berubah dan tidak lagi negatif. Akibatnya, pandangan masyarakat terhadap kegiatan ini juga akan mengalami perubahan. Kemudian, masyarakat pun akan tersugesti untuk ‘meletakkan sampah’ di tempat yang disediakan.

Sehingga, tidak akan ada lagi deh masyarakat yang sekadar ‘membuang sampah’ seenaknya, atau melakukan ini secaraa sembarangan. Nah, setelah membaca tulisan ini, Nyoozee berharap kamu bisa ikutan menularkan sugesti sosial ‘meletakkan sampah’ kepada keluarga dan sahabatmu juga! Siapa tahu nanti kotamu bisa jadi seperti kota Kamikatsu di Jepang.

 


featured image via educationquizzes.com