Menulis Jurnal Ala Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci menulis jurnal via ppcorn.com
via ppcorn.com

Menulis jurnal adalah salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh tokoh-tokoh ternama. Sebut saja Isaac Newton, Pablo Picasso, Ludwig van Beethoven, dan George Lucas. Selain mereka, ada satu tokoh lagi yang menulis jurnal dengan gaya yang unik: Leonardo da Vinci.

Leonardo rutin menulis jurnal didorong ketakjuban dan rasa penasaran atas hal-hal di sekelilingnya. Isi jurnalnya mulai dari ranah sains, musik, seni, geologi, astronomi, dan ranah-ranah lainnya. Ada ribuan lembar jurnalnya yang ditemukan. Sisanya yang tak kalah banyak sudah hilang entah ke mana.

Mungkin kamu tertarik juga menuliskan pemikiran hebat dan pengalaman inspirasionalmu dalam bentuk jurnal seperti Leonardo da Vinci? Tunggu dulu. Ia tidak menuliskan jurnalnya secara biasa-biasa saja. Berikut cara-cara menulis jurnal ala Leonardo da Vinci.

 

Menulis dari Kanan ke Kiri

via www.theguardian.com

Leonardo da Vinci menyalin gerak burung dalam tulisan kanan ke kiri via www.theguardian.com

Kalau kamu terbiasa menulis dengan tangan kiri atau kidal, teknik menulis jurnal ala Leonardo da Vinci yang satu ini bisa kamu tiru. Perlu perjuangan dan latihan sih, tapi cara ini seru juga untuk dicoba.

Ketika menulis dari kiri ke kanan dengan tangan kiri, bantalan penopang jemarimu akan langsung menyeka tulisan yang baru saja kamu tulis. Tulisanmu, baik ditulis dengan pen ataupun pensil, akan jadi buram dan tidak jelas terbaca. Akan lebih bermasalah lagi kalau tinta pulpenmu tidak cepat kering. Bisa-bisa tulisanmu tidak terbaca sama sekali dan tanganmu jadi kotor oleh tinta.

Nah, Leonardo punya solusi yang efektif. Tulis saja tulisanmu dari kanan ke kiri, seperti bayangan tulisan yang muncul pada kaca. Memang sih perlu latihan untuk menulis ataupun membacanya. Tapi kalau sudah terbiasa, hal ini tidaklah sulit. Kalau kamu suka tantangan yang melibatkan fungsi otak, coba saja teknik ini.

Kamu yang tidak kidal pun bisa mencoba menulis dengan cara ini. Kalau tidak ingin repot belajar menulis dengan tangan kiri, kamu bisa menulis dengan tangan kanan dari kanan ke kiri. Selain melatih otak, ini akan membantumu berempati dengan mereka yang menulis dengan tangan kiri dari kiri ke kanan.

Tapi ingat, menulis dari kanan ke kiri ini akan lebih berguna kalau kamu tulis hanya untuk kamu baca sendiri. Leonardo sendiri tidak menulis secara terbalik kalau menulis untuk orang lain. Ia tidak ingin menyulitkan orang lain saat membacanya.

Untuk Leonardo da Vinci, menulis dari kanan ke kiri dengan tangan kiri bisa jadi hanyalah kebiasaan dengan alasan praktis, untuk menjaga tulisannya tetap terbaca dan tangannya tetap bersih. Bukan karena tulisan tersebut adalah kode yang mengandung rahasia atau mengundang kontroversi. Tapi kamu juga bisa menggunakannya untuk membuat jurnal pribadimu jadi sulit dibaca orang lain.

 

Tidak Perlu Terlalu Rapi dan Terstruktur

via blog.paperblanks.com

Pokoknya Pak Leonardo da Vinci ngerti via blog.paperblanks.com

Prinsip menulis jurnal ini bisa digunakan kalau jurnalmu tujuannya adalah untuk transkripsi ide maupun pengalaman yang tiba-tiba muncul. Ketika melakukan transkripsi, tentu yang penting adalah kamu menyalin apa yang harus kamu salin selengkap-lengkapnya.

Kalau untuk Leonardo da Vinci, mungkin dibilang tak terstruktur pun komposisi tulisan dan gambarnya akan tetap punya komposisi cantik khas seniman. Meski demikian, kerapian dan struktur sudah jadi nomor sekian, yang penting adalah kelengkapan dan presisi. Tapi ingat, walaupun tidak rapi maupun terstruktur, tetap penting untuk kamu bisa membaca dan mengerti alur tulisanmu sendiri.

Ketika kamu perlu menyalin gambar dari inspirasi atau lingkungan sekitarmu, lakukan saja. Walau gambarmu mungkin tak sebagus karya Leonardo da Vinci, tetaplah menggambar. Jangan biarkan anggapan duh-gambarku-jelek menyurutkan niatmu. Tidak perlu terpaku pada anggapan tentang gambar yang bagus ataupun buruk. Bagus-jelek kan subjektif.

 

Jurnal Berbahan Kertas Apapun

Codex Atlanticus via blog.paperblanks.com

Codex Atlanticus via blog.paperblanks.com

Sebelum akhirnya menulis di buku-buku jurnal dengan sampul kulit, Leonardo da Vinci sering menulis di kumpulan kertas-kertas lepas yang dilipat. Memang sih, ide menulis jurnal seperti ini membuat jurnalmu jadi rentan hilang dan tercecer. Karena itu pula Leonardo baru beralih pada buku catatan di umur 30 tahun. Tapi kalau kamu memang punya banyak kertas bekas yang bagian belakangnya masih kosong, tak ada salahnya mencatat di situ.

Agar kertas-kertas ini tidak hilang, kamu bisa memasukkannya ke dalam kotak penyimpanan tertentu. Tapi itu hanya efektif untuk menyimpannya sih. Kalau kamu suka membaca ulang jurnal-jurnalmu, akan agak merepotkan kalau kertasnya lepas-lepas. Kamu bisa mengatasinya dengan menyusunnya menjadi buku kliping atau memasukkannya ke dalam map.

Biarpun agak merepotkan untuk dikumpulkan dan dibaca ulang, penggunaan kertas yang beragam ini bisa membawa fungsi nostalgia sendiri. Jenis-jenis kertas yang kamu gunakan bisa membawa ingatan khusus tentang kapan, di mana, dan kenapa kamu menulis hal yang kamu tuliskan di atasnya. Selain itu kamu juga punya andil menjaga lingkungan: menggunakan ulang kertas-kertas bekas supaya tidak sepenuhnya jadi sampah.

 

Membawa Jurnalmu ke Mana-mana

via pinterest.com

Mobile notebook versi tradisional via pinterest.com

Ada baiknya kamu membawa buku catatanmu ke mana-mana. Memang sih, sudah ada ponsel dan media sosial yang bisa menjadi tempat untuk mencatat atau berbagi tulisan. Meski begitu, menulis dengan tangan tetaplah penting.

Pada zamannya, Leonardo da Vinci selalu membawa buku catatan kecil berukuran sekitar 6 cm x 9 cm. Caranya membawa buku catatan ini pun mirip om-om era 2000-an membawa ponsel: dikaitkan ke ikat pinggang.

Menuliskan dan menggambarkan ini itu ke dalam jurnalmu juga baik untuk melatih kemampuan motorik halusmu lho. Sayang kan kalau kemampuan menulis yang kamu pelajari sejak kecil semakin hilang karena kamu terlalu sering mengetik?

 


featured image via ppcorn.com