Sertifikasi Hijab: Lantas yang Tak Halal Tak Boleh Dipakai?


Sertifikasi Hijab via girltalkhq.com
via girltalkhq.com

Di bulan Februari ini, topik sertifikasi halal untuk hijab menjadi polemik yang semakin menarik. Selain karena hal ini dianggap cukup konyol dan terlalu mengada-ada, ternyata kampanye “Yakin hijab yang kita gunakan halal?” pun punya dampak yang meresahkan bagi banyak orang. Mulai dari kaum muslimah yang pemahaman tentang agamanya minim tapi punya motivasi untuk berhijab, hingga kaum entrepreneur yang ingin mengembangkan bisnis hijab sebagai ladang mencari uang dengan jalan yang berkah.

Selain wabah keresahan yang muncul akibat wacana ini, sertifikasi halal untuk hijab juga memunculkan tanggapan dari banyak pihak. Ada yang memberikan tanggapan positif berbuah apresiasi, ada juga yang melakukan sebaliknya. Ada yang menanggapinya dengan pikiran terbuka dan santai, ada juga yang bersikeras membawa dalil dan firman Tuhan untuk menuntaskan keresahan masyarakat tentang kasus ini. Terlepas dari tanggapan seperti apa yang nantinya akan kamu ekspresikan, ada baiknya kamu mengetahui seluk-beluk sertifikasi halal untuk hijab ini terlebih dahulu.

 

Perlukah kita menggunakan hijab yang halal?

Sertifikasi Hijab via aquila-style.com

via aquila-style.com

Kalau kebetulan kamu adalah muslimah, kamu pasti tahu bahwa berhijab adalah wajib. Ini adalah bentuk cinta yang sudah selayaknya ditunjukan oleh muslimah kepada Sang Pencipta. Ketentuan ini seharusnya sudah jadi harga mati untuk para wanita pemeluk agama Islam. Tapi tunggu dulu, hijab seperti apa sih yang harus digunakan? Apakah harus benar-benar hijab yang punya sertifikat halal, tidak mengandung babi?

Untuk menjawab hal ini sebenarnya mudah saja. Kita hanya perlu meninjau kembali perintah tentang penggunaan hijab tersebut. Setiap wanita yang memeluk agama Islam diwajibkan menggunakan hijab. Hijab sendiri merupakan definisi dari kata hajaban (dalam bahasa Arab) yang berarti menutupi atau penutup. Penutup dari apa sih yang dimaksud di sini?

Penggunaan hijab berarti menutup tubuh wanita agar bagian tubuhnya (kecuali wajah dan telapak tangan) tidak tampak oleh siapapun yang bukan mahramnya. Nah, istilah mahram merujuk pada pengertian semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Mengacu pada dua kalimat sebelumnya, kita bisa memahami bahwa esensi hijab sebenarnya sangatlah sederhana. Hijab merupakan pakaian yang menutupi tubuh wanita agar bagian-bagian tubuhnya tidak terlihat oleh orang lain.

 

Sertifikasi Hijab via septiandinihijab.wordpress.com

via septiandinihijab.wordpress.com

 

Dalam banyak ayat Alquran dan sunnah yang keabsahannya diakui para ulama sejak dulu kala, penggunaan hijab haruslah mempertimbangkan lima hal yang utama. Lima hal ini yang menentukan apakah sebuah pakaian dapat tergolong sebagai hijab atau bukan. Pertama, harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Kedua, tidak boleh ketat dan tipis yang bisa menampakkan lekuk tubuh. Ketiga, tidak diberi wewangian yang bisa membangkitkan hasrat lawan jenis. Keempat, tidak menyerupai pakaian orang kafir. Kelima, panjang melebihi mata kaki.

Kalau kamu perhatikan, lima hal di atas seharusnya sudah cukup memberikan gambaran tentang titik penekanan hijab yang bertumpu pada modelnya. Bukan dari bahan atau kain yang digunakannya. Jika sebuah pakaian yang dikenakan oleh muslimah telah memenuhi lima komponen tersebut, maka ia telah memenuhi kewajiban berhijabnya. Berbeda jika muslimah menggunakan pakaian yang berasal dari kain dengan sertifikat halal tapi tipis dan tetap menunjukkan lekuk tubuh. Kalau begini, bahkan pakaian tersebut tidak bisa dikatakan sebagai hijab, toh?

 

Lalu, hijab yang halal untuk apa sih?

Sertifikasi Hijab via purwokertokita.com

Kampanye Hijab Halal via purwokertokita.com

Terus, buat apa sih label pakaian muslim kemudian mendaku sebagai kerudung bersertifikat halal pertama di Indonesia? Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memberikan sertifikasi kehalalan di Indonesia, hal ini dilakukan karena Undang-Undang Jaminan Produk Halal menyiratkan perintah bahwa sertifikasi halal tidak hanya diberikan untuk produk pangan atau obat-obatan saja, tetapi juga barang yang digunakan seperti pakaian.

Tapi, sebenarnya hal ini tidak diwajibkan lho. Sebab, belum ada Peraturan Pemerintah yang menegaskan dengan jelas tentang hal ini. Berbeda dengan itu, dari pihak produsen hijab halal ini sendiri menyatakan bahwa sertifikasi yang diajukannya kepada MUI ialah bentuk inisiatif mereka untuk memastikan bahwa konsumen terhindar dari bahan hijab yang tidak halal. Inisiatifnya harus kita apresiasi dong berarti.

 

Berarti yang tidak halal, tidak boleh dipakai?

Sertifikasi Hijab via gayahidup.republika.co.id

Promosi Kehalalan Hijab via gayahidup.republika.co.id

Eh, tapi tunggu dulu. Apakah hijab yang tidak punya sertifikat halal lantas tidak boleh dipakai? Penekanan penggunaan hijab kan bukan pada bahannya, melainkan pada modelnya atau pada lima komponen yang menjadi karakteristiknya. Jadi, kalaupun hijabmu belum disertifikasi halal tapi sudah memenuhi lima karakteristik yang ada, mungkin kamu tidak perlu ikut-ikutan resah seperti masyarakat pada umumnya.

Toh kamu tidak akan mengunyah hijabmu bukan? Hasil akhir hijab yang diproduksi pun kemungkinan besar tidak mengandung liur hewan yang haram. Gelatin adalah protein yang terbuat dari kulit, tendon, ligamen, dan tulang yang dipanaskan bersama air. Kecuali kamu memang bermasalah dengan pembunuhan terhadap hewan sapi dan babi, gelatin yang digunakan dalam proses produksi hijab seharusnya tidak banyak mengganggumu.

Lagipula, memangnya ada bahan hijab yang terbukti haram di Indonesia? Sejauh ini, belum ada laporan konsumen terkait hal ini kok. Lagipula, belum tentu kain yang tidak punya sertifikat halal itu kemudian pasti tidak halal lho. Apakah pernyataan tentang penggunaan emulsifier yang mengandung gelatin babi ini benar bisa dipertanggungjawabkan keterkaitannya dengan konteks di Indonesia? Mungkin lain waktu, merek tersebut seharusnya juga berinisiatif melakukan riset pasar tentang kain dan bahan haram yang beredar di masyarakat, sebelum menggencarkan strategi pemasaran dengan menggandeng MUI dalam proses pemasarannya.

Eh, tapi kita tidak boleh berburuk sangka dengan keduanya. Anggap saja niat si produsen hijab halal dan MUI baik untuk meningkatkan taraf konsumsi masyarakat dari industri mode dan industri pajak sertifikasi di Indonesia. Apalagi untuk MUI, sebagai majelis para ulama yang punya kewajiban menyampaikan kebenaran perintah Tuhan, bisnis sertifikasi ini tidak boleh kita anggap sebagai wujud keisengan belaka lho. Kita harus berbaik sangka bahwa sertifikasi halal untuk hijab ini dilakukan agar tidak menyusahkan umat. Ya… kalau meresahkan sedikit bolehlah.

 

Sertifikasi Hijab via arrahmah.com

via arrahmah.com

 

Hmm, tapi bagi beberapa orang, ini tidak hanya meresahkan sedikit saja lho. Boleh dibilang sertifikasi hijab yang halal bahkan sudah menjadi fenomena yang membentuk keresahan sosial. Apakah tidak sebaiknya MUI berfokus pada sertifikasi haram yang penentuan kriterianya lebih jelas saja? Jadi, kita semua tidak repot mempertanyakan apakah ini halal atau tidak. Lebih masuk akal toh? Daripada mengada-ada seperti dalam kasus ini.

Duh, lagi-lagi kita tidak boleh berburuk sangka. Namanya juga ulama. Ulama kan juga manusia. Manusia tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.

 


featured image via girltalkhq.com