3 Film Fan Made Harry Potter untuk Para Potterhead


Jika ada tahun yang amat sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemar Harry Potter, mungkin tahun itu jatuh pada 2016. Hold your pants, Potterhead, behave, take a deep breath… sebab 30 Juli dan 18 November 2016 masih lama. Meski tidak akan terasa selama itu ketika hari yang kita nanti-nantikan tiba.

Seperti yang dikatakan karakter Maia di buku City of Glass karya Cassandra Clare, hal-hal baik datang kepada mereka yang sabar menunggu. Termasuk sabar menunggu pertunjukan Harry Potter and the Cursed Child yang akan tayang di Palace Theatre, London. Juga sabar menunggu premiere Fantastic Beast and Where to Find Them yang kini tengah digarap oleh Warner Bros.

Nah, sambil menunggu tidak ada salahnya jika kita menonton 3 film fan made Harry Potter di bawah ini. Film-film ini dibuat oleh fans serial Harry Potter untuk fans Harry Potter.

Meskipun film-film ini bukan dibuat secara official oleh Warner Bros dan kawan-kawannya, tetapi film-film ini masih sangat layak untuk dinikmati. Pembuatannya tidak terkesan asal-asalan sama sekali.

 

1. The Tale of the Three Brothers

via pinterest

Film berdurasi 12 menit 37 detik ini dibuat oleh Forbidden Orchard Production, disutradarai oleh Charlotte Hawkins. Cerita film diadaptasi dari cerita pendek milik J.K Rowling dari bukunya The Tales of Beedle the Bard.

Film fan made Harry Potter ini dibintangi oleh Tom Gibson sebagai Antioch Peverell, Michael Whittaker sebagai Cadmus Peverell, Thomas Ingham sebagai Ignotus Peverell, dan Shane Welsh sebagai Kematian.

Cerita berawal ketika perjalanan ketiga bersaudara Peverell terhenti di depan sungai yang dalam dan berbahaya, sampai akhirnya mereka memutuskan membuat jembatan untuk melewatinya. Tiba-tiba Kematian yang mengenakan jubah hitam muncul dan menghadang mereka, merasa marah karena dicurangi. Karena Kematian itu licik, ia memberi selamat kepada ketiganya dan menawarkan hadiah.

via nicheinvasion.co.uk & emmanuel7 on deviantart

Si sulung yang gemar berduel menginginkan tongkat yang tak terkalahkan, tongkat yang layak untuk orang yang berhasil menakhlukan Kematian. Kematian pun memberikannya tongkat dari potongan ranting kayu elder.

via courtney burton & emmanuel7 on deviantart

Si tengah yang sombong ingin mempermalukan Kematian, maka ia meminta kekuatan yang bisa membangkitkan orang mati. Kematian memberinya sebutir batu dari tepi sungai.

via voldemort lord am i & emmanuel7 on deviantart

Sementara si bungsu adalah orang yang rendah hati dan paling bijaksana di antara ketiganya. Dia tidak mempercayai Kematian, dia hanya meminta agar ia bisa pergi tanpa diikuti. Kematian pun memberinya jubah gaib berwarna keperakan yang (seharusnya) membuatnya tidak terlihat.

Ketiganya pun akhirnya berpisah jalan, Antioch menemui ajal ketika orang lain merebut tongkatnya. Orang itu mengendap-endap saat laki-laki itu tidur di penginapan dan menghabisinya. Cadmus yang kembali ke rumah untuk membangkitkan kekasihnya yang mati akhirnya malah memutuskan menggantung diri di pohon. Hanya Ignotus yang terus hidup sampai ia punya anak dan mewariskan jubah gaibnya.

Sejauh ini tidak ada terlalu banyak perbedaan dengan cerita aslinya yang berasal dari dalam buku Beadle Si Juru Cerita. Charlotte Hawkins dan kru filmnya cukup berhasil mengemas cerita tersebut dengan narasi yang dibantu dialog-dialog serta akting yang tepat.

 

2. The Greater Good

Film fan made Harry Potter ini dibuat berdasarkan potongan-potongan cerita yang ada di Harry Potter and the Deathly Hallows.

Cerita diawali dengan terdamparnya Albus, Aberforth, dan Ariana Dumbledore bersama Gellert Grindelwald di sebuah pantai berpasir putih dalam keadaan pingsan karena sihir perpindahan yang dilakukan Ariana terhadap keempatnya.

Saat sadarkan diri, mereka tampak kebingungan dan saling menyalahkan. Albus menyuruh Aberforth dan Ariana menyingkir sementara si kakak menyelesaikan urusan dengan kawannya.

Albus mulai berdebat dengan Gellert tentang rencana serta ambisi-ambisi mereka untuk mengendalikan muggle. Sementara Aberforth dengan penuh kasih sayang menenangkan Ariana yang tidak suka melihat perkelahian dan hanya ingin selamat. Interaksi keduanya terlihat emosional, apalagi ketika membahas ibu mereka yang digambarkan sangat protektif terhadap anak perempuannya.

Christopher James Cramer (Albus Dumbledore) & Colin Goodrigdevia(Aberforth Dumbledore) via napisy pl

Di sisi lain, perdebatan Gellert dan Albus terus berlanjut. Keadaan ini diperkeruh Aberforth yang menuding Gellert sebagai orang yang tidak mengenal apa itu cinta dan kasih sayang, yang kemudian pemuda itu amini. Sebab baginya cinta Albus kepada keluarga dan lain-lain membuatnya lemah dan melenceng dari rencana-rencana mereka.

Josh Brodis (Gellert Grindelwald) via hypable

Gellert menantang temannya itu berduel dan mengangkat tongkatnya. Namun Albus diam, dan Aberforth dikorbankan sebagai bentuk provokasi. Duel pun dimulai dengan panas dan seru, dengan efek-efek yang keren.

Mantra demi mantra saling dilontarkan untuk bertahan dan menyerang. Albus ingin membawa rekannya tersebut ke Azkaban sementara Aberforth bernafsu membunuhnya. Namun dengan kemampuan sihirnya yang di atas rata-rata, Gellert jelas bukan orang yang mudah ditaklukan.

Ketiganya tampak payah setelah duel yang melelahkan, dan terlibat satu scene terakhir yang cukup dalam dan emosional. Mereka saling membunuh dengan kutukan tak termaafkan. Saat itulah Ariana menggunakan sihirnya dan mantra itu menghantam si bungsu.

Justin Zangri, sang sutradara mengakhiri cerita tidak dengan kisah yang bahagia. Secara visual dapat kita lihat hubungan Albus dengan Gellert berakhir, sementara hubungan Albus dengan Aberforth retak di sana.

Salut untuk para pemeran yang ada di depan maupun di balik layar. Efek-efek, musik latar, serta koreografi untuk martial magic-nya luar biasa. Ketampanan ketiga aktor Josh Brodis, Christopher James Cramer, Colin Goodrigde, dan tak lupa pemeran Ariana, Kari Swanson, sungguh memesona dan melenakan mata. Dua jempol untuk kerja keras mereka menyelesaikan film berdurasi 17 menit 11 detik ini.

 

3. Severus Snape and the Marauders

via live for films

Masih diproduksi oleh Broad Strokes dan disutradarai oleh Justin Zangri seperti The Greater Good, film fan made Harry Potter ini memiliki durasi yang lebih panjang dan cerita berbeda. Film yang diputar selama 25 menit 33 detik ini berawal di sebuah pub, dibuka oleh penampilan Severus Snape muda yang diperankan oleh Mick Ignis yang dihampiri oleh orang asing berjubah hitam.

Berkisahlah Snape tentang perkelahiannya dengan James Potter (Garrett Schweighauser), Sirius Black (Kevin Allen), Paul Stanko (Remus Lupin), dan Peter Pettigrew (Zachary David) di sebuah pub. Perkelahian ini akibat provokasi James yang tidak menyukai hubungan Lily Evans (Dani Jae) dengan Severus ketika The Marauders tengah merayakan kelulusan mereka.

Pada film ini, Justin Zangri, sutradara sekaligus penulis naskah benar-benar mampu menampilkan karakter-karakter The Marauders dan Severus Snape dengan mumpuni. Pengecutnya Peter Pettigrew, tengilnya Sirius, kegelisahan Remus tergambar baik. Dominasi keempat alumnus Gryffindor pun terasa ketika mereka mem-bully Snape karena pemuda itu dekat dengan Lily, juga karena dia seorang Slytherin yang dipandang jahat oleh mayoritas.

via radiotimes.com

Film fan made Harry Potter ini berhasil menunjukkan secara gamblang kemarahan serta talenta Severus Snape. Kamu bisa melihatnya ketika ia menghadapi musuh-musuh sekolahnya seorang diri setelah tujuh tahun perlakuan tidak adil yang diberikan The Marauders.

Di akhir cerita, meskipun bukan dipenghujung, Justin pun menunjukkan perasaan dalam dan rapuh yang dimiliki Severus kepada Lily Evans sebelum dia bergabung dengan Pangeran Kegelapan.

Penasaran bagaimana ceritanya?

Tonton sendiri yuk filmnya.