Band-Band Ini Konsisten Menembangkan Cinta Alam dan Lingkungan

Sewaktu Efek Rumah Kaca merilis lagu Cinta Melulu di album self-titled mereka, sebenarnya yang mereka sindir bukanlah lagu cinta itu sendiri. Mereka mencibir keseragaman objek cinta yang didendangkan band atau musisi Indonesia. Cinta seolah-olah hanya eksis dalam kerangka hubungan asmara laki-laki dan perempuan.

Relasi cinta yang seperti itu memang penting, tapi nggak lebih penting dari bentuk cinta yang lain. Misalnya cinta terhadap orangtua (jangan salah artikan sebagai inses tapi lho ya), cinta kepada kebenaran, atau cinta alam lingkungan.

Yah, walaupun ketika diwawancarai media, band-band yang jualan lagu cinta itu kebanyakan berkilah kalau lagu mereka bawakan itu mengusung cinta yang universal.

Untungnya, nggak semua seperti itu. Band-band berikut ini lumayan beda. Mereka konsisten membawakan lagu soal cinta alam dan lingkungan. Mereka antara lain:

 

Hutan Tropis

via facebook.com/hutantropisband

via facebook.com/hutantropisband

Mendengar nama band ini, entah kenapa Nyoozee langsung teringat dengan nama band Hijau Daun. Tapi kalau Hijau Daun kemudian hanya sebatas nama dan tidak pernah menyanyikan tentang fotosintesis ataupun stomata, Hutan Tropis punya lagu berjudul Rain Forest.

Lewat lagu tersebut, band yang terdiri dari Jemi Delvian, David Wibowo, Herwin Meidision, dan Iftah Auladi ini mengungkapkan rasa rindu-pilu mereka terhadap hutan hujan yang kini berubah jadi lahan-lahan terbuka.

Hutan, atau lebih tepatnya kebakaran hutan, malahan menjadi salah satu alasan berdirinya band ini. Para personil band yang berdomisili di Palembang, Sumatera Selatan ini sudah kenyang menjurus kesal menghirup asap kebakaran hutan tiap tahunnya.

Karena itulah kemudian mereka, setelah bertemu dengan seniman dan budayawan Palembang yang peduli lingkungan hidup, memutuskan menggarap lagu bertemakan cinta alam dan lingkungan.

Tidak hanya bermusik, Hutan Tropis juga mengusung misi mengampanyekan kelestarian lingkungan. Hutan Tropis pernah tampil di perkampungan di tengah rawa di 7 Ulu, Kota Palembang, yang lingkungannya terancam pembangunan hotel dan proyek wisata.

Di beberapa sekolah, mereka juga membentuk pelajar duta lingkungan. Di Kabupaten Lahat yang punya banyak penambangan batubara, mereka menggerakkan penanaman seribu pohon gaharu.

 

Sisir Tanah

via hilmanfirdaus1410.wordpress.com

via hilmanfirdaus1410.wordpress.com

Kelompok ini terdiri dari Bagus Dwi Danto dan Pandu Hidayat. Danto awalnya lebih banyak menulis bait-bait puisi, sebelum kemudian di tahun 2010 mulai bermusik. Lagu-lagu Sisir Tanah karena itu bisa dibilang adalah musikalisasi puisi-puisi Danto.

Nama Sisir Tanah sendiri idenya diambil dari nama alat pertanian tradisional, garu. Perkakas tersebut bentuknya kan mirip sisir, serta digunakan untuk meratakan tanah bajakan.

Danto memakai nama tersebut karena dekat dengan keseharian masyarakat agraris. Selain itu, sisir tanah adalah simbol ajakan agar masyarakat menanam sesuatu.

Dari semua lagu Sisir Tanah, yang liriknya paling lugas membicarakan alam dan lingkungan ada dua, yaitu Bebal dan Lagu Hidup. Di Bebal kita bisa mendengar Sisir Tanah menggugat pandangan antroposentris. Ada tak ada manusia, mestinya pohon tetap tumbuh dan terumbu karang tetap utuh.

Sementara di Lagu Hidup, mereka mengajak untuk terus merawat dan mempertahankan tanah, air, udara, kampung halaman.

 

Nosstress

via balebengong.net

via balebengong.net

Mendengarkan lagu Nosstress, seperti nama band ini, memang sangat bisa untuk menghilangkan stres. Hati dan telinga jadi terasa adem mendengar beningnya petikan gitar yang berpadu dengan lirik yang anti njelimet.

Tidak hanya itu, band yang digawangi oleh Man Angga, Kupit, dan Cok Bagus ini juga peka dengan keadaan sehari-hari yang terjadi di tempat mereka tinggal di Denpasar. Salah satu lagu mereka yang berjudul Hiruk Pikuk Denpasar memotret keseharian yang terjadi di ibukota Provinsi Bali tersebut.

“Orang-orang sudah enggan berjalan kaki
Matahari sudah bukan sahabat kita lagi
Sedikit mungkin yang berpikir tentang ini
Atau harus tunggu sampai api membakar kota ini

Hiruk pikuk Denpasar

Banyak sampah berserakan di jalanan
Kebersihan bukan cuma tugas truk berbedag hijau
Ayo ikut bersihkan sampahnya perlahan
Atau harus tunggu sampai mereka menimbun kota kita”

Favorit Nyoozee adalah lagu Tanam Saja. Lagunya adem, tapi punya tendensi menyentil pendengarnya untuk beraksi. Caranya ya, dengan menanam pohon. Satu saja sangat berarti.

 

Navicula

via naviculamusic.com

via naviculamusic.com

Dibanding ketiga band di atas, musik Navicula terdengar lebih sangar. Band yang terdiri dari Gede Robi Supriyanto, Dadang Pranoto (Dankie), Made Indra, dan Rai Widya Adnyana ini memang kental dengan pengaruh band-band Seattle Sound seperti Nirvana, Soundgarden, atau Pearl Jam.

Coba saja dengar lagu Harimau! Harimau! berikut. Lagu gahar ini menceritakan tentang harimau Sumatra yang diburu dan setelahnya akan punah jadi sejarah.

Lagu ini pernah Navicula rilis tahun 2012 lalu bersama lagu-lagu bertema lingkungan lainnya. Lagu-lagu tersebut terhimpun dalam album bertajuk Kami No Mori (A Rainforest Compilation).  Lagu berjudul Orangutan ini juga ada di dalamnya.

Totalitas band yang terbentuk sejak tahun 1996 atas isu lingkungan bahkan tercermin dalam aktivitas dua motor penggeraknya, Robi dan Dankie.

Selain bermusik, Robi aktif sebagai petani organik. Sementara Dankie, bulan Desember 2015 lalu pernah ikut serta dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris. Ia turut dalam rombongan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara mengampanyekan cerita-cerita cara masyarakat dalam melindungi hutan.

 

Itulah beberapa band yang konsisten membawakan lagu tentang cinta alam dan lingkungan. Semoga setelah membaca profil dan mendengar musik mereka, kamu juga tertulari semangat cinta lingkungan ya. Kamu bisa mulai dari hal yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya atau membatasi pemakaian tisu.