Kenapa Kamu Tidak Perlu Terlalu Yakin dengan Enkripsi WhatsApp

Semingguan yang lalu, dua orang pendiri WhatsApp mengumumkan penambahan fitur pengamanan baru ke dalam aplikasi mereka. Mereka menambahkan fitur enkripsi antar pengguna (end-to-end encryption). Enkripsi WhatsApp ini mereka klaim menjadikan obrolan via WhatsApp lebih terjaga kerahasiaannya.

Dengan fitur enkripsi WhatsApp ini, apapun pesan yang kamu kirimkan, baik ke satu orang atau ke grup WhatsApp, tidak akan bisa dibaca oleh orang lain. Yang bisa membacanya hanya kamu dan orang yang kamu kirimi pesan.

 

via diasp.org

via diasp.org

 

Patut dipahami juga, konteks dibaca oleh orang lainnya juga bukan dalam artian adikmu pinjam ponselmu lalu iseng membuka dan membaca aplikasi WhatsApp punyamu. Kalau seperti itu, WhatsApp kelihatannya juga bakal angkat tangan sih.

Pengertian dibaca oleh orang lain di sini mungkin lebih mirip dengan aksi penyadapan. Dalam dunia digital seperti sekarang kan, apa saja bisa disadap dan tersebar. Data informasi korporat saja bisa bocor hingga menciptakan skandal Panama Papers, apalagi obrolan kaum jelata. Para penjahat cyber, peretas, ataupun dinas rahasia negara mungkin gampang sekali menyadapnya.

 

Prosedur enkripsi WhatsApp via wired.com

Prosedur enkripsi Whatsapp via wired.com

 

Berkat penambahan fitur enkripsi WhatsApp ini, apapun yang kamu kirimkan via aplikasi WhatsApp tidak akan ditampung di server WhatsApp. Pesan tersebut hanya sekadar lewat sebelum kemudian sampai di tujuan. WhatsApp bahkan mengklaim pegawai WhatsApp sekalipun tidak akan bisa membaca isi pesanmu. Baik itu berupa percakapan telepon, pesan teks, foto, suara, ataupun video.

Fitur ini juga diberikan tanpa neko-neko: tanpa perlu pengaturan tambahan dan tidak pandang sistem operasi ponsel (Android, Windows Phone, iOS). Kamu cukup memasang aplikasi WhatsApp versi terbaru, maka obrolanmu bisa terjaga kerahasiaannya.

Tapi kamu tidak boleh terlalu naif dengan penambahan fitur WhatsApp tersebut.

Alasannya? Model bisnis.

 

Dulu, segini biaya berlangganan WhatsApp via phonebandit.com

Dulu, segini biaya berlangganan WhatsApp via phonebandit.com

 

Di awal kemunculannya, WhatsApp mengandalkan pemasukan dari bayaran para penggunanya. Para pengguna WhatsApp gratis menggunakan layanan aplikasi selama setahun pertama. Baru di tahun kedua, para pengguna wajib membayar sekitar dua belas ribu rupiah untuk tetap bisa memakai layanan aplikasi.

Model bisnis seperti itu cukup masuk akal. Jumlah pegawai WhatsApp toh tidak terlalu banyak, hanya 50 orang. Dalam blog resminya, WhatsApp menyebutkan menempuh cara seperti itu supaya tidak bergantung pada iklan.

Hingga kemudian pada bulan Februari 2014, raksasa media sosial Facebook mengumumkan mencaplok aplikasi pesan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, angka pembeliannya mencapai 19 juta milyar dolar. Pada bulan tersebut, WhatsApp sudah punya 450 juta pengguna.

Sesudah diakuisisi Facebook tersebut, lebih tepatnya sejak Januari 2016, WhatsApp mengumumkan tidak akan mengenakan bayaran lagi bagi para pengguna aplikasinya. Semua orang bebas menggunakan WhatsApp seumur hidup.

 

Bahagia nggak perlu bayar WhatsApp via mashable.com

Bahagia WhatsApp jadi gratis via mashable.com

 

Pertanyaan yang muncul, lantas bagaimana cara WhatsApp memperoleh pendapatan? Facebook sebagai perusahaan induknya tentu tidak akan menyia-nyiakan 19 milyar dolar yang sudah dikeluarkannya kan?

Jawabannya adalah dari menjual data penggunanya ke pihak lain.

Cara tersebut tersirat dalam keterangan WhatsApp sewaktu menggratiskan layanannya. Mereka menyebutkan:

…we will test tools that allow you to use WhatsApp to communicate with businesses and organizations that you want to hear from. That could mean communicating with your bank about whether a recent transaction was fraudulent, or with an airline about a delayed flight.

Kok bisa ya WhatsApp merasa yakin bahwa penggunanya ingin mendapatkan informasi dari organisasi atau perusahaan tertentu? Tapi berhubung mereka memegang data satu milyar penggunanya, tentu saja akan jadi keputusan bodoh secara bisnis kalau tidak dimanfaatkan.

Strategi enkripsi WhatsApp pun sebenarnya tidak terlalu memengaruhi model bisnis eksploitasi data pengguna seperti itu. Micah Lee, seorang jurnalis dari The Intercept, melihat celah yang tetap bisa dimanfaatkan WhatsApp. Anak perusahaan Facebook tersebut tetap bisa menyimpan informasi seperti jam, tanggal, dan tujuan pesan yang dikirimkan pengguna WhatsApp.

 

 

Pendapat sama juga dikemukakan seorang pakar keamanan siber, Tal Shmueli. Seperti yang ia tuliskan dalam Quora, WhatsApp tetap bisa mengamati metadata pesan penggunanya seperti nomor telepon, nama, grup, jam, keterangan percakapan, dan tujuan pengiriman.

Penambahan fitur enkripsi ini malahan justru bisa menambah jumlah pengguna WhatsApp. Orang-orang yang peduli dengan urusan keamanan dan kerahasiaan mungkin jadi akan berpaling ke aplikasi pesan ini. Jumlah pengguna bertambah, data yang bisa dikumpulkan juga makin banyak.

 


featured image via vulcanpost.com