Seandainya 5 Proyek Google Ini Dimanfaatkan untuk Kepentingan Pemilu


nenek ikut pemilu

Kamu tahu kan Google bukan sekadar mesin pencari internet. Bulan Oktober 2015 lalu, perusahaan yang berbasis di Amerika ini memutuskan membuat perusahaan induk Alphabet. Tujuannya adalah untuk “merapikan” struktur perusahaan.

Setelah ada Alphabet, nantinya proyek Google yang menciptakan produk bersifat rintisan teknologi akan berdiri sendiri. Tidak lagi satu unit dengan Google yang menyediakan layanan mesin pencari dan aplikasi internet.

Meski proyek-proyek Google seringkali buntung daripada untung, tapi mereka tetap menjalankannya. Alasannya adalah untuk membangun kehidupan umat manusia jadi lebih baik. Beda-beda tipis dengan koar-koar yang dikecapkan oleh calon pemimpin atau calon wakil rakyat menjelang pemilihan umum ya.

Menjelang pilkada serentak yang tinggal hitungan hari, Nyoozee membayangkan seandainya proses pilkada memanfaatkan proyek-proyek yang Google kembangkan. Manfaat praktisnya kira-kira seperti ini:

 

Melindungi ruang penyimpanan data atau logistik Pemilu dengan Project Nest

Project Nest merujuk kepada produk yang dikeluarkan Nest, anak perusahaan Alphabet. Perusahaan ini mengeluarkan berbagai peralatan rumah tangga yang bisa saling terhubung dan juga terkoneksi dengan ponsel pengguna. Beberapa produk itu seperti termostat pengatur suhu ruangan, kamera CCTV, alarm kebakaran, dan sistem pengunci pintu.

Untuk keperluan pemilu, produk Nest ini bisa dipasang di ruang penyimpanan logistik pemilu. Sistem penguncian pintu bisa merekam siapa saja yang keluar atau masuk ruang tersebut. Atau bila sampai ada pihak yang ingin mengganggu dengan cara merusak atau membakar logistik yang disimpan, sensor dalam perangkat Nest akan memberi notifikasi kepada pengelola ruangan tersebut. Dengan begitu pengelola ruangan bisa langsung memanggil bantuan pemadam kebakaran atau kepolisian.

 

Mendistribusikan logistik dengan Project Wing atau BigDog

Drone di Project Wing (atas) via phandroid.com dan robot BigDog (bawah) via engadget.com

Drone di Project Wing (atas) via phandroid.com dan robot BigDog (bawah) via engadget.com

Distribusi logistik seperti bilik suara, surat suara, atau tinta secara tepat waktu sering jadi kendala teknis penyelenggaraan pemilu. Pemanfaatan proyek Google bisa menjadi solusi atas masalah tersebut. Produk yang sekiranya cocok seperti drone dari Project Wing atau BigDog buatan anak perusahaan Alphabet, Boston Systems.

Pengangkutan menggunakan drone tidak akan menemui kendala sekalipun tidak ada akses jalan yang baik ataupun menemui medan yang terjal. Hanya saja, drone ini masih versi prototipe sehingga baru bisa mengangkat paket ukuran kecil.

Kalau memang paket logistiknya terlalu besar untuk dibawa drone, BigDog bisa menggantikan peran tersebut. Keberadaan robot berbentuk hewan berkaki empat ini layaknya keledai pengangkut di ekspedisi-ekspedisi tempo dulu. Robot dengan panjang 90 cm dan tinggi 75 cm ini mampu berjalan menempuh medan terjal sekalipun. Hebatnya lagi setiap langkah yang ia tempuh, bisa untuk mengisi ulang energinya sendiri.

 

Melindungi situs web KPU atau pemantau independen dengan Project Shield

Adu popularitas jelang pemilu bisa berujung pada persaingan tidak sehat. Cara yang digunakan entah lewat kampanye hitam ataupun manipulasi data-fakta. Karena itu keberadaan situs web pemantau yang memberikan data rekam jejak ataupun dugaan pelanggaran kandidat pemilu amatlah diperlukan.

Project Shield adalah proyek Google untuk melindungi situs-situs seperti itu dari serangan peretas. Lebih spesifik lagi, Project Shield melindungi situs web dari serangan DDoS (Distributed Denial of Service), yakni lonjakan akses mendadak dalam satu waktu bersamaan.

Project Shield menyediakan pengaturan sehingga webmaster bisa meletakkan konten web mereka di ruang yang sudah Google disediakan. Prosesnya tanpa disertai pemindahan server secara fisik. Nantinya, sistem perlindungan Google bisa menjadi “tameng” situs lain yang menumpang dari serangan DDoS.

 

Menyediakan jaringan internet di lokasi terpencil dengan Project Loon

cara kerja Project Loon via broadbandworldforum.files.wordpress.com

Cara kerja Project Loon via broadbandworldforum.files.wordpress.com

Keberadaan internet amat vital di era sekarang ini. Dalam konteks Pemilu, koneksi internet memang tidak dibutuhkan sewaktu kita memberikan suara. Koneksi internet biasanya justru dibutuhkan sesudah memberikan suara. Orang yang punya hak suara butuh untuk selfie jari ungu. Surveyor hitung-cepat butuh koneksi internet untuk mengirimkan data. Panitia pemilihan lokal juga butuh membutuhkannya untuk mengunggah laporan dan hasil rekapitulasi.

Tapi bagaimana kalau lokasi pemilihan itu di pelosok? Penyedia layanan telekomunikasi susah menjangkau sampai ke sana. Keberadaan proyek Google yang memakai balon udara, Project Loon, bisa menjadi solusi.

Project Loon memanfaatkan balon untuk menyediakan akses internet nirkabel ke wilayah yang masih dalam cakupannya. Prinsipnya mirip seperti tiang jaringan, tapi karena berbentuk balon jadi bisa lebih fleksibel.

 

Menyediakan listrik untuk penyelenggaraan Pemilu dengan Project Makani

Turbin udara di Project Makani via thedailybeast.com

Turbin udara di Project Makani via thedailybeast.com

Semua perangkat elektronik yang dipakai untuk penyelenggaraan pemilu tentu butuh sumber energi listrik. Tapi bagaimana jika, seperti dalam poin sebelumnya, daerah pemilihan tersebut berada jauh di pelosok. Jangankan tiang pemancar sinyal seluler, tiang listrik pun belum ada.

Untuk itu peran turbin angin dari proyek Google Makani amat dibutuhkan di sini. Prinsip kerjanya adalah seperti pembangkit listrik tenaga angin seperti yang sudah lazim digunakan di negara-negara maju. Bedanya turbin angin di sini bukan berupa kincir raksasa, tapi berbentuk seperti layang-layang.

Turbin tersebut diluncurkan dari stasiun pengendali, dan sesudah sampai pada ketinggian yang dibutuhkan, layang-layang itu terbang di daerah yang punya angin kencang dan konstan. Kabel konduktor seperti benang layang-layang berfungsi mengalirkan energi ke pusat kendali.

 

Produk teknologi sifatnya netral, tergantung siapa yang memanfaatkan. Di tangan orang yang tepat akan sangat berguna; tapi di tangan orang mental maling, secanggih apapun teknologinya, pasti akan kebobolan.

 


featured image via wlrn.org