3 Pemikiran Logis Untuk Menghindari Perilaku Boros

via edponsi.com

Sudah banyak tips yang menjelaskan tentang bagaimana menabung, dan berhemat. Tapi kadangkala itu semua tidak ada artinya. Kita terlalu lelah untuk menuruti tips-tips ala Paman Gober. Diminta naik angkutan umum, kena panas tak rela, hujan pun jadi kendala; diminta membawa bekal, waktu mepet, dan terasa tidak praktis; diminta tidak berfoya-foya, tapi diri sendiri merasa butuh hadiah setelah lelah bekerja. Seakan setiap tips selalu saja ada bantahannya.

Lantas tips apalagi yang bisa menyelamatkan dompet tipis kita?

Saat perilaku sulit diarahkan, mungkin yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir. Dalam hal ini, berikut 3 pola pikir yang mungkin bisa membantumu menghindari perilaku boros:

 

1. Bedakan fungsi, dan sensasi

via beyondbeermoney.com

via beyondbeermoney.com

 

Walaupun terdiri dari angka-angka yang jelas, nilai uang kadang teramat relatif di kepala kita. Saat naik taksi seseorang mahfum dengan angka puluhan ribu (bahkan memberikan tip), tapi giliran naik Bajaj, ia bisa mati-matian menawar tarif yang hanya berapa belas ribu. Begitu pula saat seseorang makan hingga ratusan ribu di restoran mewah, padahal di warteg atau restoran padang, ia juga bisa menemukan rasa kenyang yang sama.

Di sinilah kita sebagai pengguna uang harus berpikir lebih logis, kalau mau hemat. Lakukan lah sedikit perhitungan. Layak kah tarif transport 2 minggu dengan angkutan umum, dihargai satu kali pergi dengan taksi? Layak kah 10 kali makan di warteg dihargai satu kali makan di restoran mewah? Layak kah uang untuk 20 kali menonton di bioskop, digunakan menonton satu konser Katy Perry?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak, dan itu sama sekali tak mengapa. Seseorang bisa saja berkata layak, karena ada sensasi yang ‘pantas’ dihargai semahal itu. Kenyang di restoran padang dengan kenyang di restoran bintang-lima tidaklah sama. Fungsi mungkin sama, tapi sensasinya beda. Yang kemudian perlu dipertanyakan adalah: seberapa perlukah sensasi-sensasi itu? Bisakah kamu mendapatkan sensasi serupa dengan harga yang lebih murah?

 

2. Jangan senang di awal, lalu menderita kemudian

via skeptikai.com

via skeptikai.com

 

Buat kamu yang dana operasionalnya bulanan, kamu pasti pernah berpikir bahwa foya-foya dulu tak apa, hematnya di minggu terakhir saja. Lalu kamu merencanakan penghidupanmu di minggu terakhir, seperti: akan naik angkutan umum, nggak akan jajan yang aneh-aneh, nggak akan menghabiskan kuota internet, dan sebagainya. Tapi di akhir minggu itu ternyata rencanamu gagal total. Kamu jadi harus minjem uang, tersiksa, atau bahkan sampai berpuasa.

Nah, kalau memang hidupmu seperti itu, bertaubatlah, Nak. Janganlah berfoya-foya di awal bulan sekalipun kamu merasa kuat untuk menebusnya. Sebab, sejago apapun kamu, akan selalu ada present-bias yang bisa kamu sesali kemudian. Present-bias adalah anggapan-anggapan, perkiraan, ataupun perhitungan di masa sekarang, yang bisa jadi salah di masa depan.

Tentu saja, pepatah, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, merupakan suatu panduan yang tepat-guna dalam hal ini.

 

3. Post-purchase rationalisation

via www.moneysmartguides.com

via www.moneysmartguides.com

 

Anggaplah kamu sudah terlanjur tidak mempedulikan dua saran di atas, dan sudah kepalang menghabiskan uang. Lantas apa yang bisa dipelajari?

Yang pertama kali harus dilakukan adalah berhenti melakukan pembenaran. Seringkali orang setelah membeli barang, tapi ternyata barangnya tidak sebagus itu, hanya berakhir dengan pembenaran saja. Misalnya beli baju, tapi ternyata nggak nyaman, atau matching sama celana manapun; maka berkatalah, “kan bisa pakai cardigan” atau, “ya siapa tahu nanti beli celana yang matching.

Stop doing that! Tidak mengakui kesalahan, tidak akan membuatmu lebih baik. Kalau setelah menghabiskan uang kamu merasa rugi, maka periksa lah di mana letak kesalahanmu; kenapa kamu bisa terjebak? Apakah karena itu barang diskon? Karena dikompori teman? Karena nggak enak kalau nggak beli? Dan sebagainya.

Setelah tahu apa yang membuatmu terjebak, tanamkanlah di benakmu bahwa kamu tidak akan melakukan lagi kesalahan yang sama.

 

Yuk lah, kita hidup hemat!