4 Langkah Menangani Depresi Di Tempat Kerja


via lopezabogado.com

Patut dipahami bahwa depresi bukan sekadar “sedang tidak mood” atau mendadak sendu sendiri. Depresi adalah penyakit, sama seperti diabetes ataupun maag. Bedanya, orang yang menderita depresi biasanya lebih tertutup akan penyakitnya tersebut ketimbang orang yang menderita sakit diabetes atau maag. Orang dengan depresi cenderung diam dan menyimpan untuk dirinya sendiri.

Padahal keadaan menutup-tutupi sakit seperti itu tidak baik buat semua pihak. Baik bagi si penderita sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Dalam urusan pekerjaan, produktivitasnya jadi menurun. Bahkan, terkadang orang yang menderita depresi memutuskan untuk absen sesaat, mangkir dari pekerjaan.

Kalau kamu sudah merasakan gejala depresi, berikut langkah untuk menangani depresi di tempat kerja sebagaimana diambil dari Mental Floss.

 

1. Pertimbangkan Perlu Tidaknya Mengungkapkan

via nuevotiempo.org

via nuevotiempo.org

Bentuk depresi tiap-tiap orang berbeda. Ada yang bisa jadi sangat emosional, ada yang melampiaskan lewat marah-marah, ada yang diam atau menarik, ada juga yang tampak seolah bahagia padahal di dalam hati merasa sangat tertekan.

Karena itu bentuk penangannya pun tidak bisa diseragamkan. Kamu bisa memilih menangani depresi dengan cara menyimpannya di tempat kerja dan baru mengungkapkannya hanya kepada ahli kejiwaan. Bisa juga kamu memilih untuk membicarakannya dengan atasanmu.

Langkah untuk mendiskusikannya sepertinya akan jauh lebih baik. Jika atasanmu punya empati, harusnya ia akan memberikanmu fleksibilitas kerja.

Ungkapkan kepadanya bukan hanya hal-hal buruk saja, tetapi juga hal-hal personal. Apalagi jika kamu ingin meningkatkan kualitas pekerjaanmu sebagai seorang karyawan, ungkapkan apa yang kamu butuhkan untuk mengatasi rasa tertekanmu.

 

2. Minta Kelonggaran Secara Formal

via nice.com

via nice.com

Langkah berikutnya yang perlu kamu lakukan dalam menangani depresi adalah minta kelonggaran secara formal. Dalam artian bukan cuma sekadar pembicaraan tahu-sama-tahu antara dirimu dengan atasanmu. Kamu harus menemuinya, membicarakan mengenai depresi yang kamu derita, serta kelonggaran yang kamu minta.

Jika perusahaanmu peduli terhadap kesejahteraan karyawannya, mereka biasanya akan memberikan kelonggaran-kelonggaran khusus. Tentunya dengan catatan, kamu tetap menyelesaikan bagian pekerjaanmu dengan baik.

 

3. Urus Segala Dokumen

via forbes.com.br

via forbes.com.br

Mengingat kamu minta kelonggaran secara formal, pastikan ada dokumen hitam di atas putih atas permintaanmu tersebut. Sampaikan permintaanmu tersebut secara formal dalam bentuk surat permohonan. Lagi-lagi jangan cuma berpegang pada perkataan bos atau orang personalia saja.

Bukannya apa-apa, ini untuk kebaikan dirimu sendiri kok. Surat permohonan tersebut menjadi bentuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan ke depannya. Simpan duplikat surat atau e-mail permohonan tersebut sebagai arsip pribadimu.

 

4. Ajukan Keluhan

via bundesregierung.de

via bundesregierung.de

Jika terjadi hal yang tidak menyenangkan seperti kamu dipecat, diturunkan jabatan, atau bahkan sampai dipecat, kamu berhak untuk menyampaikan keluhan. Hanya karena kamu menderita depresi bukan berarti orang lain atau perusahaan berhak memperlakukanmu seperti itu.

Kenal orang yang memahami dengan baik undang-undang tenaga kerja akan sangat baik. Kamu bisa menanyakan mengenai kasusmu ini kepadanya. Atau bila tidak ada, coba cari tahu apakah perusahaanmu punya serikat karyawan. Kamu juga bisa mencoba berkonsultasi dengan pengurus serikat karyawan.

 

Kamu lebih dari sekadar penyakitmu. Kamu bisa kok tetap berkarya dan meraih sukses walaupun menderita depresi. Sama saja kan seperti orang yang punya keterbatasan fisik (katakanlah cacat anggota tubuh, tunanetra, ataupun menderita down syndrome) tapi tetap bisa wara-wiri di televisi jadi pembicara motivasi. Karenanya jangan biarkan depresi mematahkan semangatmu ya.

 


featured image via lopezabogado.com