Merasa Sulit Menumbuhkan Jiwa Kreatif? Ini Dia Alasannya

via tumblr.com

Tahun ini industri kreatif diramalkan akan semakin naik daun. Popularitasnya akan membuat industri ini semakin dilirik, baik oleh mereka yang ingin menggeluti dunia kreatif maupun oleh perusahaan yang berniat melebarkan sayapnya dalam industri kreatif. Daya tarik yang dimiliki oleh dunia kreatif hingga mampu seperti sekarang ini menunjukkan kemajuan yang penuh arti. Seolah kreativitas yang dulu berbatas, kini telah menemui tempatnya.

Kendati demikian, kita sebenarnya tidak boleh puas begitu saja. Sebab,  jika dibandingkan dengan perkembangan dunia kreatif di negara lain, khususnya negara-negara barat, kemajuan yang terjadi di negeri kita belumlah seberapa. Selain karena kehadiran industri kreatif baru dianggap sebagai arena yang menyenangkan sekaligus menguntungkan beberapa tahun terakhir, sumber daya manusia yang benar-benar berhasil meretas batas dengan kreativitas masih tergolong sedikit.

 

via o2indonesia.wordpress.com

via o2indonesia.wordpress.com

 

Di sisi lain, kemajuan industri kreatif yang terbilang lebih lambat dari negara-negara barat ini sering dianggap sebagai akibat sistem budaya yang ada. Dalam perspektif sosiologi masyarakat, bahkan tidak sedikit yang mengemukakan tentang pertentangan antara nilai-nilai budaya dari dunia barat dan timur dan dampaknya terhadap perkembangan kreativitas masyarakatnya.

Salah satu ahli yang mencoba menjelaskan fenomena ini adalah Ng Aik Kwang, seorang profesor dari University of Queensland. Dari kacamata psikologi sosialnya, Ng Aik Kwang mengemukakan penjelasannya bahwa penetrasi nilai-nilai yang berbeda antara masyarakat timur dan barat ternyata memiliki peran serius dalam pembentukan jiwa kreatif masyarakatnya.

Masyarakat barat mengadopsi budaya egaliter, individualistik, demokratis, serta tidak terikat erat dengan norma sosial dan adat masyarakat. Sebagian besar individunya memberikan perhatian serius terhadap potensi kreativitas dalam diri masing-masing. Sehingga, mereka menjadi lebih otonom, lebih mandiri, dan lebih suka memformulasikan hal-hal baru untuk meningkatkan kualitas diri mereka, dibanding berperilaku sesuai tuntutan standar masyarakatnya.

 

Paradigma bahwa umur tidak boleh menghalangi kreativitas adalah nilai yang telah lama dikembangkan masyaraat barat via jennymuncaster.co.uk

Paradigma bahwa umur tidak boleh menghalangi kreativitas adalah nilai yang telah lama dikembangkan masyarakat barat via jennymuncaster.co.uk

 

Berbeda dengan itu, masyarakat timur justru punya berbagai aturan sosial yang mengikat, cenderung mengutamakan kebersamaan, banyak menjunjung tinggi hubungan hierarki, juga sangat mementingkan keseimbangan dalam masyarakat. Lalu, apa dampaknya terhadap masyarakat yang hidup dengan sistem nilai ini? Tidak bisa dipungkiri, masyarakat timur seolah dipaksa untuk bertindak konformis demi menghindari konflik dan mengganggu keseimbangan sosial.

Siapapun yang ingin berkreasi sering kali terbentur dengan aturan-aturan yang secara turun-temurun diberlakukan di masyarakat. Bentukan budaya timur tampak sebagai pembatas bagi potensi kreativitas. Mungkin inilah yang menjadi alasan betapa susahnya menjadi cetakan manusia yang kreatif atau mengembangbiakkan kreativitas di Indonesia sebelum era milenium ketiga.

 

Setelah milenium ketiga, banyak orang Indonesa yang tidak ragu lagi mengekplorasi kreativitasnya via enterpriseasiamagazine.com

Setelah milenium ketiga, banyak orang Indonesia yang tidak ragu lagi mengekplorasi kreativitasnya via enterpriseasiamagazine.com

 

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, teori yang menjabarkan dikotomi antara sistem budaya di masyarakat timur dan barat sedikit demi sedikit kehilangan pengikutnya. Sebab, ternyata ada hal-hal lain yang berlaku umum yang menjadi alasan mengapa cukup sulit mengembangkan jiwa kreatif dalam diri seseorang. Hal ini berlaku biarpun orang tersebut hidup dalam masyarakat yang mengadopsi nilai-nilai budaya barat atau budaya ketimuran. Salah satu teori yang menjelaskan hal ini ialah The Investment Theory of Creativity yang digagas oleh Robert J. Sternberg.

Sternberg menjelaskan bahwa ada enam hal yang dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang kreatif. Bila kamu merasa bahwa kamu adalah golongan yang sulit menumbuhkan jiwa kreatif di tengah menjamurnya dunia kreatif saat ini, bisa jadi kamu belum memaksimalkan enam hal tersebut. Hal yang harus kamu maksimalkan ini adalah kemampuan intelektual, pengetahuan, gaya berpikir, kepribadian, motivasi, dan lingkungan.

 

via computationalcreativity.net

Ayo, mulai identifikasi hal yang kamu lewatkan sehingga kamu jadi tidak kreatif via computationalcreativity.net

 

Bisa jadi kamu belum memaksimalkan kemampuan intelektualmu sepenuhnya. Kemampuan intelektual ini meliputi kemampuanmu untuk melihat permasalahan yang ada di sekitarmu, memunculkan ide-ide baru di kepalamu, dan melahirkan ide tersebut ke dalam sesuatu yang bisa dipraktekkan. Selain kemampuan intelektual, bisa jadi jiwa kreatifmu belum maksimal karena kamu masih kurang mengisi kepalamu dengan terpaan informasi yang bermanfaat. Untuk mengatasi hal ini, coba lebih rajin lagi membaca. Tapi ingat ya, membaca apapun harus sampai habis! Agar informasi yang ada bisa kamu cerna secara utuh.

Merasa bahwa kemampuan intelektual dan pengetahuanmu sudah cukup baik, tapi masih belum kreatif? Bisa jadi ada yang salah dengan gaya berpikirmu. Menurut Sternberg, untuk menumbuhkan jiwa kreatif yang dibutuhkan adalah gaya berpikir yang bersifat legislatif. Apa sih maksudnya gaya berpikir legislatif? Legislative Thinking adalah gaya berpikir yang tidak terpaku pada aturan dan lebih fokus untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Contoh gaya berpikir legislatif bukanlah dengan memposisikan dirimu sebagai orang dengan pola pikir ‘out of the box’, melainkan orang dengan pola pikir ‘what if there is no box’. 

 

via www.creativejeffrey.com

Gaya berpikir yang kreatif, jika kamu tidak bisa kreatif via www.creativejeffrey.com

 

Hal lain yang bisa menjadi alasan mengapa sulit menumbuhkan jiwa kreatif adalah masalah kepribadian. Kamu harus punya ketekunan atas sesuatu yang kamu sukai, sekalipun rasa suka itu adalah kepada gebetan. Jangan mudah menyerah untuk sesuatu yang benar-benar ingin kamu wujudkan. Jadilah pribadi yang berani mengambil resiko. Ingatlah, jika kamu ingin menang besar maka kamu juga harus bertaruh resiko besar.

Selain empat hal telah disebutkan, untuk menumbuhkan jiwa kreatif kamu juga harus punya motivasi. Baik itu motivasi dari dalam dirimu sendiri atau motivasi dari orang lain yang punya pengaruh besar untuk hidupmu. Pastikan bahwa di setiap apapun yang kamu lakukan, kamu selalu termotivasi untuk melakukannya. Jangan sampai kamu kehilangan motivasi. Jika tampaknya kamu membutuhkan tambahan motivasi, coba simak petuah dari Bruce Lee atau akun-akun Instagram ini. Siapa tahu kamu termotivasi untuk menjadi kreatif.

 

Kelilingi dirimu dengan orang-orang positif dan penuh ide kreatif via symmetry50.com

Kelilingi dirimu dengan orang-orang positif dan penuh ide kreatif via symmetry50.com

 

Hal terakhir yang menurut Sternberg bisa menjadi alasan mengapa sulit menumbuhkan jiwa kreatif dalam dirimu ialah lingkungan. Coba kelilingi dirimu dengan orang-orang yang selalu membuatmu berpikir positif, yang memberimu inspirasi, dan mendukung kreativitas yang terpendam dalam dirimu. Nyoozee yakin bila kamu telah memaksimalkan diri untuk memenuhi enam hal di atas, kamu pasti sukses menumbuhkan jiwa kreatif dan siap mengejutkan dunia dengan kreasi otentikmu.

 


featured image via tumblr.com