Jika Dibiasakan, 7 Hal Ini Bisa Membuatmu Sulit Menabung


via onesixzeros.com

Pernahkah bertanya-tanya, mengapa meski penghasilanmu lebih dari cukup tapi kamu tetap sulit untuk menabung? Atau kamu juga mempertanyakan saldo tabunganmu yang seolah tidak pernah meningkat? Bisa jadi jawabannya adalah karena kebiasaanmu. Mungkin kamu punya kebiasaan yang membuat arus pengeluaran lebih banyak, dan kamu jadi sulit menabung. Beberapa hal di bawah ini adalah contohnya:

1. Perilaku Konsumtif

via tumblr.com

via tumblr.com

Selalu ingin mengoleksi pakaian terbaru dari brand tertentu, lebih suka makan di luar daripada membawa bekal, lebih senang membeli air minum dalam kemasan dibanding membawa botol minum sendiri adalah contoh dari gaya hidup yang konsumtif. Belum lagi jika ternyata wajib bagimu untuk membeli kopi di kedai ternama yang menuliskan namamu di setiap gelasnya itu.

Coba hitung-hitung lagi deh, jumlah yang harus kamu keluarkan untuk membiayai gaya hidup seperti ini. Jika ternyata jumlahnya lebih dari setengah penghasilanmu, maka kamu harus siap untuk berganti gaya hidup atau menurunkan standar ini. Sebab kalau dibiasakan terus, kamu tidak akan punya tabungan yang stabil. Jangan hanya karena tren dan faktor lingkungan, kamu jadi mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilanmu nih.

 

2. Senang Merayakan Banyak Hal

via cakesandcupcakesmumbai.com

via cakesandcupcakesmumbai.com

Baru saja sukses diwawancara oleh perusahaan multinasional idamanmu, kamu langsung merayakan dengan mentraktir semua sahabat dekatmu. Adikmu baru saja naik tingkat di tempat kursus Bahasa Spanyolnya, kamu rayakan dengan membeli kue tar besar untuk dihabiskan seluruh anggota keluarga. Sahabatmu baru saja punya pacar baru, kamu ikut merayakannya dengan pergi ke tempat karaoke. Ketika anak kucingmu baru lahir, kamu merayakannya dengan membagikan nasi kuning ke tetangga.

Punya kecenderungan untuk merayakan setiap hal dalam hidupmu atau orang di sekitarmu? Duh, kurang-kurangi deh. Ini bisa jadi sangat boros jika kamu tidak memilih secara cermat, mana yang benar-benar harus dirayakan dan mana yang tidak. Pengeluaran tidak terduga bisa menjadi lebih banyak. Kamu pun jadi sulit menabung nantinya.

 

3. Suka Gonta-Ganti Gadget

via imore.com

via imore.com

Selalu update dengan berita teknologi terkini memang sah-sah saja. Tapi tetap harus waspada ya! Jangan sampai terpaan informasi ini justru meningkatkan hasratmu untuk segera mengganti gadget lamamu dan memiliki gadget paling mutakhir. Padahal kondisi gadget yang lama masih optimal dan berfungsi normal. Jika hal ini terus dibiasakan, kamu bisa semakin sering gonta-ganti gadget untuk alasan yang sebenarnya tidak terlalu rasional. Konsekuensinya, kamu bisa jadi semakin sulit menabung.

 

4. Keasyikan Belanja Online

via klarity-analytics.com

via klarity-analytics.com

Bagi sebagian orang, belanja online memang hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Apapun yang kamu butuhkan seolah begitu mudah didapatkan dari situs-situs internet. Selain menawarkan kemudahan tersebut, ada review dari pembeli lainnya yang bisa memantapkan keputusanmu untuk membeli suatu barang secara online.

Metode pembayarannya pun mudah. Tidak perlu mengeluarkan uang fisik, cukup melalui transfer, mobile banking, atau internet banking. Apalagi jika ada diskon, wah, kamu bisa saja memborong berbagai barang mulai dari sepatu, pakaian dalam, microwave hingga kolam renang plastik. Tapi, jangan terlalu dibiasakan ya. Keranjingan belanja online bisa membuatmu sulit menabung lho. Oleh sebab itu, coba pertimbangkan lagi apa yang akan kamu beli di situs belanja online agar tabungan dan dompetmu pun aman.

 

5. Tergoda Cicilan, Terjerat Hutang

via americanfreedomunion.com

via americanfreedomunion.com

Terkadang cicilan 0 persen yang ditawarkan oleh kartu kredit bisa sama menariknya dengan perempuan cantik atau laki-laki tampan. Bedanya, ketertarikan pada lawan jenis hanya membuat kita terjerat pada komitmen, sedangkan tertarik pada cicilan 0 persen akan membuat kita terjerat hutang. Bisa jadi bahaya kalau kamu tidak cermat mengendalikan jumlah cicilan yang telah menjeratmu. Bisa-bisa, penghasilanmu di bulan mendatang terpaksa harus dialokasikan seluruhnya untuk melunasi hutang-hutang ini. Sisa untuk menabung pun, jadi 0 rupiah. Oleh sebab itu, untuk mengurangi potensi sulit menabung, coba gunakan kartu kredit dengan cerdas atau hindari berhutang untuk sesuatu yang tidak benar-benar penting.

 

6. Tidak Mencatat Pengeluaran

via credit.about.com

via credit.about.com

Bukan hanya revisi dari dosen pembimbing atau pesan penting dari atasanmu saja lho, yang harus kamu catat. Pengeluaranmu juga harus dicatat. Jangan membiasakan diri berbelanja barang ini dan itu tanpa mengingat kembali apa saja yang telah kamu beli. Bisa-bisa kamu nanti tidak sadar bahwa uang di dompetmu sudah habis atau uang di kartu debitmu sudah tidak memadai.

Hati-hati juga, kebiasaan tidak mencatat ke mana saja uang telah dikeluarkan bisa menimbulkan malapetaka lain buatmu. Kamu bisa saja membayar sewa kontrakan dua kali karena lupa mencatatnya saat membayar untuk bulan yang sama. Alhasil, uang pun semakin berkurang dan lagi-lagi, kamu jadi sulit menabung.

 

7. Pemikiran YOLO

via genius.com

via genius.com

Banyak orang salah menempatkan jargon You Only Live Once dalam menjalani hidup. Meski memang benar kenyataannya bahwa hidup hanya sekali, tapi bukan berarti jargon ini cocok untuk diterapkan setiap saat dalam hidup kita.

Contoh yang cocok untuk menerapkan YOLO ialah ketika kamu ragu apakah kamu akan mencoba ikut MUN atau tidak. Dengan berpikir bahwa hidup hanya sekali, kamu pasti akan lebih termotivasi untuk mencoba ikut daripada menyia-nyiakan kesempatan itu. Contoh antitesis penempatan jargon YOLO ialah ketika kamu melihat helm HUD terbaru keluaran BMW yang cukup mahal, lalu seketika itu pula kamu membelinya. Padahal kamu tidak bisa mengendarai motor dan selama ini selalu menjadi penumpang. Ketika ditanya kenapa kamu membeli BMW HUD, kamu hanya menjawab, “Kan hidup cuma sekali, kapan lagi memuaskan diri sendiri?”

via brandnite.com

via brandnite.com

Contoh lain penempatan YOLO yang salah juga berlaku saat kamu ikut-ikutan sahabatmu menghadiri festival musik Coachella dan menyaksikan langsung Guns N’ Roses, padahal kamu hanya tahu lagu Patience saja. Terlebih lagi, sebenarnya kamu justru harus mulai menabung untuk melanjutkan kuliah S2. Alasan kamu pergi ke sana hanyalah, “Karena hidup cuma sekali, sayang kalau melewatkan kesempatan ini”. 

Jika kamu membiasakan pikiran, “Ah, hidup cuma sekali ini. Jadi gapapa deh mengeluarkan uang untuk ini sekali seumur hidup.”, jangan heran kalau kamu jadi sulit menabung. Sebab, pemikiran semacam ini akan selalu membuatmu menunda menabung. Maka itu, mulai sekarang coba deh belajar menempatkan prinsip YOLO dalam posisi hidup yang lebih tepat.

 


featured image via onesixzeros.com