Apa Hubungan “Ayo Kerja” dengan Kemerdekaan Indonesia? (Bagian-1)


Sekretariat Kabinet Republik Indonesia tempo lalu telah mempublikasikan logo resmi perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia. Logo berupa angka 70 (berwarna putih dalam lingkaran merah) tersebut mencantumkan “Ayo Kerja” di bawahnya.

Bila kita cukup teliti, bisa kita temui pula bahwa angka 7 pada logo dibentuk seperti kepala garuda. Selain itu, kita juga bisa menemukan bahwa pada angka 7 terdapat empat bulu, sedangkan pada angka 0 terdapat lima bulu – yang menandakan tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Terlepas baik atau tidaknya logo tersebut, setidaknya, ada kebaruan yang diusung pada tahun ini. Seperti yang kita tahu, tahun-tahun sebelumnya logo hari kemerdekaan relatif tidak memiliki perbedaan berarti.

 

Logo dari ke tahun via bocahgabus.blogspot.com

Logo dari ke tahun via bocahgabus.blogspot.com

 

Selain desain baru, hal menarik lainnya adalah peletakan kalimat “Ayo Kerja” di bawah logo. Semboyan khas Jokowi yang juga menjadi nama kabinet dan ‘gerakan nasional’ ini memang kian ditekankan dalam berbagai kesempatan.

Sebagai sebuah semboyan, jelas bahwa “Ayo Kerja” hanya tercipta dari dua kata sederhana: ayo dan kerja.  Jauh berbeda dengan, misalnya, “Bhinneka Tunggal Ika”, “Merdeka atau Mati”, atau jargon-jargon ala Sukarno, yang memiliki level abstraksi dan praksis yang lebih puitis.

Dalam “Ayo Kerja”, nampak tidak ada kedalaman metafor yang berarti. Alih-alih bersifat mengajak, kesan dari kalimat itu justru lebih lekat dengan titah atasan kepada pegawainya yang tengah ‘malas-malasan’.

 

Kalimat “Ayo Kerja” pun terus menerus diucapkan oleh Pak Presiden. Penggunaan yang terus menerus (overused) ini tentunya bisa mereduksi esensi kalimat itu sendiri. Bisa kita lihat, misalnya, pada sambutan Presiden Joko Widodo saat peluncuran logo 70 tahun kemerdekaan RI berikut:

Semua harapan kita tentang Indonesia itu hanya bisa dicapai dengan kerja. Sekali lagi dengan kerja. Hanya melalui kerja, sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Hanya melalui kerja, bangsa Indonesia akan bisa membangun jiwa dan sekaligus membangun raganya untuk kejayaan indonesia raya. Hanya melalui kerja, Republik Indonesia akan dapat berdiri kokoh untuk selama lamanya dan mampu mewujudkan semua cita-cita mulia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

 

via article.wn.com

 

Kalau bisa kita tekan ctrl+f untuk mencari kata “kerja”, maka jumlahnya tentu akan banyak sekali. Seakan Pak Presiden begitu mudahnya mengucapkan kalimat itu. Dampaknya adalah kata tersebut menjadi kata yang ‘mudah diabaikan’ juga. Dan pidato terasa lebih mirip nasehat ketimbang penyemangat – apalagi pencerahan.

Meski begitu, jelas kita tidak boleh menyepelekan pesan dari Pak Presiden. Jangan sampai kemasan pidato – yang tidak lugas dan minim retorika – tersebut meluputkan kita dari gagasannya. Sebab sekalipun kesannya dangkal, ucapan Presiden Jokowi nyatanya memiliki pesan yang mendalam. Misalnya arti kata “kerja” yang diucapkannya berikut:

“Kerja yang saya maksud bukanlah bukan semata mata kerja biasa. Kerja dilakukan dengan keinsafan akan kekuatan dari persatuan Indonesia. Kerja yang dilakukan dengan gotong royong. Gotong royong dari seluruh anak bangsa tanpa kecuali.”

Pada poin di atas dapat kita ketahui bahwa kerja yang dimaksud bukanlah kerja ‘individualistis’, melainkan kerja yang secara kolektif. Dan bukan hanya rakyatnya saja; pada kalimat selanjutnya tertulis juga keikutsertaan negara dalam kerja kolektif tersebut.

 

via just-prime-a.blogspot.com

 

Poin selanjutnya yang perlu dimaknai adalah seberapa besar arti kerja itu? Dan untuk apa? Untuk hal ini Presiden Joko Widodo berucap bahwa:

“‘Ayo kerja’ bukanlah slogan semata, melainkan sebuah pergerakan. Pergerakan apa? Pergerakan seperti halnya yang pernah dibayangkan oleh Bung Karno, bapak bangsa dan proklamator kemerdekaan; bahwa pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan.

Pergerakan kita haruslah pada hakikatnya suatu pergerakan yang ingin mengubah sama sekali sifat-sifat kita. Suatu pergerakan yang ingin menjebol kesakitan-kesakitan sampai ke sumber-sumbernya, sampai ke akar-akarnya.

Di sini sebetulnya bisa kita cermati bahwa rakyat diminta membangun mental yang mampu (dan mau) menuju ke sesuatu yang lebih besar. Bukan lagi yang penting “bisa makan”, tapi memberikan sumbangsih yang besar; kalau perlu ‘lebih besar’ dari dirinya sendiri.

Mungkin perlahan muncul sentimen: “Loh, itu kan tugas pemerintah? Pemerintah harusnya membawa kesejahteraan! Kenapa rakyat yang disuruh kerja?”

Sentimen seperti ini jelas wajar mengingat pernah adanya rezim yang relatif tidak mengajak partisipasi. Tapi, mengingat sekarang zamannya sudah beda, tuntutannya beda, dan dinamika negaranya juga beda, jelas perlu ada pemahaman baru yang perlu dihayati bersama.

Pemahaman yang seperti apa? Nah, hal tersebut akan dibahas di bagian kedua.

 

 

 


[Featured image via: setkab.go.id]