Ini Perbedaan Proyek MRT, LRT, dan Monorel Jakarta

train
Tampilan MRT di Singapura via mot.gov.sg

Pada tahun 2007, Steve Jobs mencemooh stylus. Menurutnya, benda yang mirip pulpen itu usang dan merepotkan. Steve berjanji tidak akan pernah menjadikan stylus sebagai bagian dalam produk keluaran Apple.  Eh, sewaktu Steve mangkat delapan tahun kemudian, penerusnya di Apple memperkenalkan lagi penggunaan stylus.

Soal stylus di Apple mirip dengan transportasi berbasis rel di Jakarta. Tahun 1959, Soekarno menyetop pengoperasian trem di Jakarta. Trem adalah kereta yang relnya terbentang di jalan raya. Trem tempatnya digantikan oleh keberadaan bus-bus PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta). Namun, kelak di tahun 2019 , jalan-jalan di Jakarta akan penuh kembali dengan trem.

Bentuknya memang bukan seperti trem zaman Soekarno dulu sih. Saat ini yang dikembangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah trem versi modern berupa MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit). Sebelumnya juga sempat ada wacana tentang monorel di Jakarta.

Kalau kamu masih suka rancu dengan moda-moda transportasi tersebut, simak artikel di bawah ini.

 

MRT (Mass Rapid Transit)

kereta 3D

Desain MRT Jakarta via firmanikhsan.com

 

Kalau kamu pernah naik Kereta Rel Listrik (KRL), kereta MRT punya format tidak beda jauh dengan KRL. Satu set kereta MRT kira-kira akan terdiri dari enam gerbong yang daya angkutnya bisa sampai 1.500 penumpang.

Bedanya dengan KRL, kereta MRT nantinya akan punya dua model stasiun. Model pertama adalah yang berada di atas jalan raya. Stasiun model ini mirip dengan Stasiun Cikini, Juanda, atau Gondangdia. Model stasiun yang kedua adalah yang berada di bawah tanah.

Nantinya rel kereta MRT akan terdiri dari dua koridor. Koridor yang sudah siap dikerjakan adalah Koridor Selatan – Utara dengan rute melewati Lebak Bulus – Kampung Bandan. Jarak tempuhnya kira-kira 87 kilometer. Pengerjaan koridor ini melalui dua tahap pengerjaan.

Tahap pertama pengerjaan dari Lebak Bulus sampai Bunderan HI rencananya akan selesai tahun 2018. Rute ini dikebut pengerjaannya supaya bisa dipakai sewaktu penyelenggaraan Asian Games 2018 nanti. Sisa pengerjaannya, dari Bunderan HI sampai Kampung Bandan rencananya selesai tahun 2020.

Satu koridor lagi, yakni Koridor Timur – Barat pengerjaannya masih dalam tahap studi kelayakan. Koridor ini bisa selesai dan dioperasikan paling lambat tahun 2027.

 

LRT (Light Rail Transit)

Contoh LRT di Kuala Lumpur via megapolitan.kompas.com

Contoh LRT di Kuala Lumpur via megapolitan.kompas.com

 

Jika sistem transportasi berbasis rel diibaratkan sebagai sebuah pohon, MRT adalah batang besarnya sedangkan LRT cabang-cabangnya. LRT dibuat untuk menjadi angkutan pengumpan (feeder), yang mengangkut penumpang dari lokasi yang jauh dari jalan utama.

Karena perannya sebagai angkutan pengumpan, bentuk LRT pun lebih kecil dari MRT. Kereta LRT terdiri dari 3 gerbong yang bisa mengangkut sampai 400 penumpang.

Proyek LRT di Jakarta nantinya akan dibuat dan dikelola dua instansi. Untuk LRT dalam kota Jakarta akan dibuat dan dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sedangkan LRT yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di sekelilingnya akan dibuat oleh BUMN PT. Adhi Karya.

LRT buatan Pemprov DKI rencananya akan terdiri dari tujuh koridor. Saat ini, yang perencanaannya sudah matang baru koridor 1 yang melayani rute Kebayoran Lama – Kelapa Gading. Keenam koridor lainnya masih dalam tahap pengkajian.

Sementara itu, LRT buatan PT. Adhi Karya akan melayani 6 rute : Cibubur – Cawang, Bekasi Timur – Cawang, Cawang – Dukuh Atas, Cibubur – Bogor, Dukuh Atas – Senayan, dan Palmerah – Grogol.

Kalau masih bingung juga, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama membahasakan moda ini dengan singkat:

Orang-orang kaget ada LRT, padahal LRT itu bahasa kerennya kereta.

 

Monorel

Desain Monorel Jakarta via kaskus.co.id

Desain Monorel Jakarta via kaskus.co.id

 

Monorel adalah moda transportasi berbasis rel yang sempat mau dibuat juga di Jakarta. Sayangnya, proyek ini tidak berlanjut. Padahal tiang pancang untuk jalur keretanya sudah ditanam di beberapa ruas kota.

Salah satu alasan proyek ini batal adalah karena belum tercapai kata sepakat tentang desain pembangunan depo. PT Jakarta Monorail mendesain depo tempat penyimpanan dan perawatan kereta di Waduk Setiabudi dan Tanah Abang. Hal itu tidak sesuai dengan rekomendasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kalau depo tetap dibangun di Waduk Setiabudi, dikhawatirkan waduk bisa jebol.

Proyek monorel akhirnya digantikan oleh LRT. Tiang-tiang pancang yang sudah sempat dibangun nantinya akan dipakai sebagai lintasan LRT. Secara fisik, perbedaan jalur monorel dan LRT terletak pada jumlah relnya. LRT punya rel ganda seperti KRL, sedangkan monorel relnya tunggal.

Andai proyek monorel jadi terlaksana, rutenya akan terdiri dari dua jalur, jalur hijau dan jalur biru. Jalur hijau melintasi Kampung Melayu-Tebet-Kuningan-Casablanca-Tanah Abang-Roxy-Taman Anggrek.

Sedangkan untuk jalur biru, rutenya melintasi Kuningan-Kuningan Sentral-Gatot Subroto-Senayan-Asia Afrika-Pejompongan-Karet-Dukuh Atas-lalu kembali ke Kuningan.

 

Nah, sekarang kamu sudah tau bedanya kan.

 


featured image via mot.gov.sg