Kamikatsu: Sebuah Kota Tanpa Sampah di Jepang

Jepang bisa dibilang selalu memikirkan solusi unik untuk berbagai masalah. Mulai dari membuat seni gambar di sawah untuk meningkatkan penjualan beras, sampai membuat konsep idol group aneh demi memenangkan persaingan pasar dunia hiburan.

Solusi unik memang dibutuhkan untuk berbagai masalah, mulai dari masalah luar biasa sampai masalah-masalah yang sederhana. Begitu juga untuk masalah yang sering kita alami sehari-hari, yaitu masalah sampah.

Sebuah desa kecil di Jepang bernama Kamikatsu punya solusi untuk masalah sampah yang terus menerus menumpuk setiap harinya. Mereka bahkan berambisi menjadi Zero-Waste City pada tahun 2020 mendatang. Penasaran dengan desa ini? Yuk simak pembahasannya:

 

Kamikatsu, Kota Kecil di Selatan Jepang

Pemandangan kota Kamikatsu dari kejauhan. via j-cul.com

Pemandangan kota Kamikatsu dari kejauhan. via j-cul.com

Kamikatsu adalah sebuah kota yang berlokasi di Distrik Katsuura, prefektur Tokushima. Kamikatsu mungkin bisa dibilang sebagai desa, mengingat luas wilayahnya yang tidak terlalu besar, dan populasinya yang hanya sekitar 2000 orang saja.

Pada awalnya, Kamikatsu mengelola sampah layaknya kota pada umumnya; dikumpulkan lalu dibakar. Tahun 2003 mereka sadar bahwa membakar sampah akan memberikan dampak yang buruk baik bagi lingkungan ataupun kondisi alam.

Sejak saat itu, pemerintah Kamikatsu mulai mencanangkan menjadi kota yang bersih dengan tingkat pembuangan sampai dengan nol, dan menerapkan beberapa kebijakan demi mencapai cita-cita tersebut.

 

Menjadi Zero-Waste City dengan Daur Ulang

oleh Robert Gilhooly via theguardian.com GD8201614@A-resident-divides-up-7395

Sampah-sampah yang sedang dipisahkan berdasarkan kelompok.Foto oleh Robert Gilhooly via theguardian.com

Demi mencapai cita-cita mulia tersebut, sejak 2003 pemerintah Kamikatsu mulai menerapkan program daur ulang yang sangat ketat. Di kota-kota besar sampah umumnya hanya dikelompokkan menjadi dua kelompok, sampah organik dan non organik. Beda halnya dengan di Kamikatsu.

Di sini, sampah yang akan dibuang dibagi sampai menjadi 34 kelompok! Tak hanya organik dan non organik, mereka bahkan membedakan tempat untuk membuang botol plastik dan tutupnya; kaleng alumunium, besi, dan botol gelas; kertas koran dan kertas majalah; kemasan plastik bersih dan kotor; dan masih banyak kelompok lainnya lagi.

oleh robert via theguardian.com GD8201644@Sonae-Fujii-of-the-Ze-320

Tong berisi sampah-sampah berdasarkan kelompoknya masing-masing. Foto oleh Robert Gilhooly via theguardian.com

Agar cita-cita menjadi zero-waste city dapat tercapai, Kamikatsu juga memaksa warganya untuk membersihkan sampah-sampah non-organik. Contohnya seperti botol atau kemasan plastik, kaleng minuman, dan botol kaca. Dengan demikian, kelompok sampah plastik kotor nantinya hanya untuk kemasan plastik yang memang tidak bisa dibersihkan ketika dibuang.

 

Membuat Daur Ulang Menjadi Budaya

Mendaur ulang menjadi kerajinan tangan yang berguna. via giphy.com

Mendaur ulang menjadi kerajinan tangan yang berguna. via giphy.com

Meski awalnya masyarakat merasa sangat diberatkan dengan kebijakan ini, namun pada akhirnya semua proses pengelompokan sampah tersebut menjadi rutinitas tersendiri.

Daur ulang pun menjadi budaya tersendiri di kota kecil ini. Sampah-sampah didaur ulang menjadi berbagai produk kerajinan tangan. Mulai dari boneka teddy bear kecil, tas, sepatu kain, bahkan sampai dibuat menjadi baju.

Bahkan ada sebuah toko di mana para warga bisa memberi atau mengambil barang-barang bekas secara gratis. Toko-toko ini pun menggunakan barang-barang hasil daur ulang sebagai dekorasi ruangannya.

 

Sampai saat ini, sampah yang didaur ulang di kota Kamikatsu sudah mencapai tingkat 80%. Pada tahun 2020, pemerintah kota Kamikatsu berharap kota mereka sudah tidak lagi menghasilkan sampah.

Meski masalah sampah sering dianggap sepele, namun ini akan tetap menjadi masalah besar bagi lingkungan jika dibiarkan secara terus menerus. Menurutmu, bisa tidak ya kota Jakarta menerapkan cara ini untuk mengatasi masalah sampah yang terus menumpuk? Atau kamu punya solusi lain yang lebih baik? Tuliskan di kolom komentar ya.

 


Featured Image by Seeker Stories, via youtube.com