Kenali Perbedaan Warna Pasir Pantai dengan Empat Pendekatan Ini

via brandhook.com

Saat berwisata ke pantai, salah satu kegiatan seru untuk dilakukan adalah main pasir. Membangun istana pasir, membuat bendungan air laut, atau main lempar pasir bisa menjadi pilihan buat yang takut terbawa arus air laut. Lagipula banyak pantai yang melarang pengunjung untuk berenang di lautnya. Kalau sudah begitu, satu-satunya permainan yang bisa dilakukan ya ngutak-atik pasir pantai.

Namun, saat bermain pasir itu, pernahkah kamu memikirkan dari mana asalnya pasir pantai? Tidak mungkin ia datang dibawa oleh truk pengangkut pasir. Kalau kamu pernah gali-gali pasir untuk bikin bendungan kecil, pasti kamu akan terus menemukan pasir. Seolah pasir itu tidak ada habisnya. Pasir yang tidak ada habisnya itu pun kamu lihat terbentang di sepanjang pantai, seperti karpet yang tidak ada ujungnya.

Lalu setelah kamu bingung dari mana asalnya, kamu juga mentok dengan pertanyaan kenapa warna pasir pantai bisa berbeda-beda? Saat kamu ke Pantai Parangtritis, warna pasirnya yang hitam-hitam beda dengan pasir pantai-pantai di Gunung Kidul yang warnanya putih kekuningan.

Kata kuncinya cukup mudah, lihat saja sekitarmu. Bumi adalah kitab terbentang luas. Segala jawaban atas pertanyaan itu sudah terpampang, tinggal bagaimana kamu menemukannya dengan membayangkan proses yang terjadi di alam sekitarmu.

Untuk fenomena pasir pantai ini, ada banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan warnanya. Berikut Nyooze berikan pendekatan yang bisa kamu terapkan untuk mengetahui asal-muasal warna sebuah pantai. Coba deh.

 

Lihat Bebatuan yang Ada di Sekitarmu

Pada dasarnya, pasir merupakan material yang kamu dapat pada proses penghancuran batu. Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua material batu yang hancur akan menjadi pasir; ada bagian yang larut bersama air. Material yang menjadi pasir merupakan bagian yang paling keras.

Meski begitu, jangan bayangkan pasir yang kamu lihat di pantai itu serta merta muncul karena batu yang terhantam gelombang. Batu bisa menjadi pasir karena proses pelapukan selama ratusan ribu atau bahkan jutaan tahun. Pelapukan bisa terjadi juga karena perbedaan suhu dan cuaca selama terus menerus.

Secara mudah, kamu bisa mengenali dari mana asal pasir itu dengan melihat tebing atau bukit di sekitarmu. Tebing yang terempas ombak sedikit demi sedikit mengalami erosi atau pengikisan. Serpihan itu akhirnya terbawa ombak ke tepian pantai. Jika kamu melihat di sekelilingmu ada tebing yang batunya sama dengan warna pasir, maka dari sanalah pasir itu berasal.

Pasir Pantai Watu Kodok, Gunung Kidul bisa jadi berasal dari serpihan batu-batu di tebing sekitarnya - via tekno-safari.blogspot.com

Pasir Pantai Watu Kodok, Gunung Kidul, bisa jadi berasal dari serpihan batu-batu di tebing sekitarnya – via tekno-safari.blogspot.com

Deretan pantai di selatan Gunung Kidul umumnya mengandung pasir hasil pelapukan batuan di sekitarnya. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan karst, yang batuan utamanya adalah batu kapur atau batu gamping. Pasir yang sekarang kamu lihat di sana juga nyatanya hasil dari pelapukan batu gamping.

 

Sungai Mengangkut Material ke Muara

Jangan lupakan sungai yang membawa material dari hulu ke muara. Kalau kamu peka, material di hulu sungai selalu berbentuk batuan besar. Batuan tersebut mengalami penghancuran di dalam sungai dikarenakan gesekan antara arus sungai dengan batuan lainnya. Bisa juga karena perubahan suhu yang membuatnya lapuk, sehingga akhirnya menjadi butiran kecil. Nah, setelah sampai di muara, bentuk batuan itu sudah menjadi sangat halus.

Muara Sungai CIkaengan - via panoramio.com

Muara Sungai Cikaengan – via panoramio.com

Proses ini terus berlangsung sejak sungai terbentuk beribu-ribu tahun lalu, dan hingga saat ini pun masih berjalan. Coba kamu bayangkan berapa ton material yang sudah terbawa ke pantai. Sebagian material yang tidak larut oleh air akan diendapkan di pantai bersama hancuran batuan di sekitar pantai. Inilah yang membentuk pasir pantai.

 

Bisa Jadi Berasal dari Material Gunung Api

Mungkin kamu sedikit heran, bagaimana bisa lava sampai ke pantai padahal jarak pantai dengan gunung sangat jauh? Ternyata sungailah yang membawa berbagai material dari hulu, berupa perbukitan atau dataran tinggi, sampai ke muara yang selalu di pesisir. Ciri yang cukup menonjol dari pantai ini adalah pasir hitam yang mengelilinginya, akibat lava gunung api yang mengalir ke laut.

Lava yang membeku di Pantai Wediombo, Gunung Kidul - via nitainwonderland.wordpress.com

Lava yang membeku di Pantai Wediombo, Gunung Kidul – via nitainwonderland.wordpress.com

Suhu ekstrim yang mengakibatkan perbedaan antara air laut dingin dan lahar panas memecah lava menjadi partikel kecil. Partikel ini yang akhirnya membeku, membentuk kristal padat yang terkumpul di pantai. Gelombang pasang surut sepanjang waktu, yang mengikis kristal padat, memecahnya menjadi bahan butiran kecil yang selanjutnya terproses secara alamiah. Proses pengikisan kristal padat oleh gelombang pasang surut tersebut akan membentuk butiran-butiran pasir.

via indunpsasmud.files.wordpress.com

via indunpsasmud.files.wordpress.com

Pantai Parangtritis memiliki pasir yang berasal dari material vulkanis. Pembentukan pasir ini tidak lepas dari pengaruh adanya Gunung Merapi yang menghasilkan pasir dalam jumlah besar. Pasir itu terbawa ke daerah laut oleh Sungai Progo dan Sungai Opak. Pasir itu kemudian mengalami pengikisan oleh ombak pantai sehingga menjadi pasir-pasir yang halus. Sebagian pasir-pasir yang halus itu menjadi penghias pantai. Sebagian lagi terbawa ke daratan yang lebih jauh dan menjadi gumuk pasir.

Gumuk Pasir di dekat Parangtritis - via misteraladin.com

Gumuk pasir, bukit pasir tepi laut, di dekat Parangtritis – via misteraladin.com

 

Serpihan Biota dari Laut

Di balik lautan luas, hidup banyak biota beraneka jenis dengan aneka warna. Biota ini beragam mulai dari ikan hingga terumbu karang. Pasir ternyata ada yang berasal dari biota laut juga. Terumbu karang yang tumbuh selama ratusan hingga ribuan tahun ini mengalami pengikisan bagian tubuh.

Begitu pula hal ini dialami biota lain yang memiliki cangkang. Hewan invertebrata laut semacam ini biasanya mati dengan meninggalkan cangkang. Kemudian setelah melalui proses panjang, akhirnya cangkang itu pecah menjadi serpihan pasir dan tertinggal di pantai.

Pantai Merah Muda di Lombok - via twicsy.com

Pantai Merah Muda di Lombok – via twicsy.com

Salah satu pantai yang mengalami fenomena semacam ini adalah pantai Merah Muda (Pink Beach) di Lombok. Pasir pantai ini berwarna merah muda, dikarenakan beberapa faktor. Pasir pantai ini merupakan campuran yang terdiri dari sedikit serpihan karang, cangkang kerang, serta kalsium karbonat dari invertebrata laut yang berukuran sangat kecil. Selain itu ada juga Foraminifera, ameba mikroskopis yang memiliki cangkang tubuh berwarna merah atau pink cerah.

 

Itulah beberapa fenomena penyebab perbedaan warna pasir pantai. Pada dasarnya, tidak melulu sebuah pantai mengalami satu proses saja. Pasir di sebuah pantai itu seperti sidik jari; ia unik. Setiap pantai bisa jadi mengalami lebih dari satu proses sehingga membentuk warna yang unik dan berbeda. Keunikan komposisi, warna, dan kehalusan pasir pantai tidak hanya dari batuan atau material penyusunnya, tetapi juga karena proses di pesisir yang mengubah pantai dalam kurun waktu yang sangat lama.

 


Feature Image via brandhook.com