Balai Budaya Jakarta: Rahimnya Lembaga-Lembaga Seni di Jakarta

Balai Budaya Jakarta

Mendengar nama Balai Budaya Jakarta, bisa jadi kamu keliru menyamakannya dengan Bentara Budaya Jakarta. Dari lokasi berdirinya saja sudah beda.

Bentara Budaya Jakarta terletak di Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta Pusat. Sementara Balai Budaya Jakarta terletak di Jalan Gereja Theresia No. 47 Menteng, Jakarta Pusat. Sama-sama Jakarta Pusat sih, tapi tetap saja lokasinya berbeda.

Wajar kalau kamu asing dengan nama Balai Budaya Jakarta. Bangunan ini memang sudah melewati masa-masa kejayaannya pada tahun 1950-an hingga tahun 1990-an. Bangunan yang diresmikan tanggal 14 April 1954 oleh Menteri Pendidikan Republik Indonesia saat itu, Mohammad Yamin, kini seolah terlupakan.

Pada masa jayanya dulu, Balai Budaya Jakarta merupakan tempat lahirnya lembaga penting dunia seni Jakarta. Sebut saja Badan Pembina kebudayaan yang kini dikenal dengan nama Dewan Kesenian Jakarta atau DKJ. Menyusul kemudian Institut Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, dan Pusat Kesenian Jakarta di bilangan Taman Ismail Marzuki.

Ya, Balai Budaya adalah tempat mereka dikonsepsi dan dikandung, sebelum akhirnya lahir dan berkembang dengan baik sebagai tempat berkegiatan seni hingga sekarang. Tapi sementara mereka lahir dan berkembang menjadi badan-badan yang efektif dan modern, Balai Budaya sendiri semakin lemah dan tertinggal.

 

Balai Budaya Jakarta via megapolitan.kompas.com

Balai Budaya Jakarta via megapolitan.kompas.com

 

Ketertinggalan tersebut adalah akibat dari simpang siurnya sejarah dan status kepemilikan tempat ini. Hal itu menyebabkan perawatan dan pengelolaan gedung hanya mengandalkan inisiatif para seniman senior. Mereka-mereka yang masih peduli terhadap nasib tempat bersejarah ini.

Sejarah dan asal-usul Balai Budaya Jakarta menunjukkan titik terang ketika pada tahun 2004 sejumlah surat dan dokumen mengenai tempat tersebut diketemukan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Nunus Supardi, yang sekarang menjabat sebagai anggota Lembaga Sensor Film, yang tidak sengaja menemukannya.

Sayangnya, dokumen-dokumen tersebut baru tersampaikan kepada Ketua Balai Budaya, Cak Kandar, tahun 2015. Cukup lama memang. Saat ini dokumen-dokumen tersebut masih diproses oleh pemerintah. Balai Budaya harus menunggu proses tersebut selesai sebelum akhirnya bisa menjalankan renovasi. Sempat ada renovasi-renovasi kecil, tapi itu saja belum cukup.

 

Pameran Lukisan Aisul Yanto di dalam Balai Budaya Jakarta

Pameran Lukisan Aisul Yanto di dalam Balai Budaya Jakarta

Pelukis Aisul Yanto

Pelukis Aisul Yanto

 

Saat Nyoozee berkunjung ke sana, sedang ada pameran seni oleh pelukis Aisul Yanto. Menurutnya, istilah pameran kurang tepat. Ia lebih memilih menyebut kegiatan tersebut sebagai open studio. Bedanya apa? Sebagai sebuah open studio, ia menawarkan proses, bukan hanya hasil jadi.

Karena itu kamu bisa melihat prosesnya melukis. Ada kertas-kertas kopian dari buku sketsanya yang ditempelkan di dinding. Kertas-kertas ini ditempelkan dengan menyisakan banyak ruang kosong. Katanya, kertas-kertas ini baru akan rampung ditempelkan semua pada hari terakhir pamerannya.

Selain itu, pameran ini juga tidak menempelkan judul dan keterangan lukisan. Ia sengaja melakukannya untuk memicu adanya dialog. Ia membuka diri dan kesempatan pada pengunjung untuk bertanya tentang proses dan makna di balik karya-karyanya.

Oh iya, mengingat Aisul Yanto ini juga merupakan salah satu pengurus Balai Budaya Jakarta, kamu bisa menemukan sketsta tentang Balai Budaya Jakarta dipamerkan di sini. Ada 22 lembar sketsa Balai Budaya Jakarta dan daerah sekitarnya yang dipajang bersama dengan lukisan-lukisan bertemakan energi.

 

Sejumlah 22 sketsa Balai Budaya Jakarta dan sekitarnya

Sejumlah 22 sketsa Balai Budaya Jakarta dan sekitarnya

ifvej

Sketsa Balai Budaya Jakarta dan Sekitarnya

 

Setelah vakum bertahun-tahun, saat ini Balai Budaya Jakarta lebih sering digunakan sebagai tempat berkumpul dan pameran beberapa seniman yang sudah senior. Biasanya yang mengadakan pameran hanya perlu mengganti biaya listrik saja.

Karena keterbatasan ukuran dan fasilitas, saat ini kegiatan yang bisa dilakukan di tempat ini sangatlah terbatas. Harapannya, setelah urusan surat-surat Balai Budaya selesai, proses renovasi menyeluruh dapat segera dilakukan. Dengan begitu, Balai Budaya Jakarta semakin efektif sebagai alternatif sarana seniman dan warga Jakarta berseni dan berbudaya.

Selain butuh material fisik baru untuk merenovasi, Balai Budaya Jakarta tentu juga perlu suntikan bakat-bakat baru untuk jadi generasi penerus. Dalam kesempatan ini nih, anak-anak muda yang mengaku artsy dan nasionalis bisa unjuk gigi. Tertantang?