Resensi Buku: Cantik Itu Luka, Cinta Dalangnya


via fetihabsari.blogspot.com

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan lahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironis ia menamakannya Si Cantik.

 

via goodreads

via goodreads

 

Spoiler alert! Disarankan untuk tidak meneruskan membaca resensi ini jika tidak menyukai spoiler.

Buku ini diawali dengan kalimat pembuka yang edgy: “Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.” Setelah itu Eka Kurniawan mulai melucuti tabir-tabir kehidupan Dewi Ayu yang sangat panjang. Maka itu sebaiknya siapkan dirimu sebelum membaca.

Dewi Ayu lahir dari pasangan inses: satu ayah beda ibu. Mereka saling jatuh cinta, namun karena tidak direstui mereka minggat dari rumah. Suatu ketika pasangan ini pun punya anak perempuan, yang adalah Dewi Ayu. Dewi Ayu mereka tinggalkan di depan rumah kakek neneknya. Ted dan Marietje Stammler kemudian merawat Dewi Ayu sampai zaman Jepang tiba, mengakhiri kekuasaan Belanda di Indonesia.

Ted meninggal saat dikirim perang. Marietje menyusul tak lama. Kapal yang ditumpanginya untuk melarikan diri ke Belanda ditenggelamkan Jepang. Dewi Ayu pun memutuskan menikah dengan Ma Gendik, kekasih Ma Iyang. Ma Iyang sendiri adalah gundik Ted Stammler.

Diceritakan Dewi Ayu benar-benar jatuh cinta pada Ma Gendik. Meskipun pria yang seharusnya adalah kakeknya itu tidak mau. Ia justru sangat membenci Dewi Ayu. Ma Gendik mengutuk keluarga Stammler karena memisahkannya dari Ma Iyang. Setelah pernikahannya yang terpaksa dengan Dewi Ayu, akhirnya Ma Gendik memutuskan bunuh diri.

Setelah kematian Ma Gendik, janda Dewi Ayu dilamar Mr. Willie. Pria baik ini adalah pegawai Ted Stammler. Dewi Ayu kebingungan menolak. Namun ketika itu Jepang tiba dan menangkapi sisa-sisa orang Belanda. Ia merasa beruntung pasukan itu membawanya ke kamp tahanan, sehingga ia tidak perlu menjawab lamaran Mr. Willie.

 

2075d083cf03ef3cc69244ed96b7c04d

via io9.com

 

Dengan kecerdasannya Dewi Ayu mampu bertahan hidup, juga menghidupi orang-orang di kamp. Sampai pada suatu hari, Dewi Ayu terpaksa mengorbankan tubuhnya demi mendapatkan dokter untuk mengobati ibu salah satu temannya yang sakit. Tidak lama setelah kejadian itu Dewi Ayu dan gadis-gadis cantik di dalam kamp dipindahkan keluar tahanan untuk menjadi pelacur Jepang. Mucikari yang mengurus mereka bernama Mama Kalong.

Sebulan kemudian Dewi Ayu hamil anaknya yang pertama, keturunan Jepang. Namanya Alamanda. Kedatangan Jenderal Jepang menyelamatkan gadis-gadis pelacur Mama Kalong. Namun itu tidak lama.

Jepang kalah. Sekutu tiba. Tempat itu diambil alih KNIL yang kemudian dibantai gerilyawan pribumi. Mereka tidak hanya membunuh KNIL tetapi juga memperkosa perempuan yang ada di sana sampai pasukan Inggris tiba.

 

via pinterest

via pinterest

Dewi Ayu hamil anak keduanya, keturunan pribumi. Ia beri nama Adinda, seperti nama tokoh di buku Max Havelaar. Sementara anak ketiganya bernama Maya Dewi dan anak keempatnya adalah Si Cantik.

Kini Dewi Ayu hanya ingin pulang ke rumahnya. Membongkar harta karun yang ia kubur di jamban sebelum ia dikirim ke kamp tahanan. Sayang, rumahnya yang lama sudah dihakmiliki oleh istri seorang gerilyawan. Mama Kalong membantunya membeli kembali rumah itu.

Dewi Ayu berjanji akan melunasi hutangnya setelah mendapatkan harta karun simpanannya. Tetapi sayang sekali hartanya hilang. Seperti janjinya, ia menjadi pelacur Mama Kalong untuk membayar hutang.

 

via pinterest

via pinterest

 

Dewi Ayu adalah pelacur favorit di Halimunda sampai kedatangan Maman Gendeng. Pendekar yang kebal senjata ini langsung jatuh cinta pada Dewi Ayu dan melarang orang-orang untuk menyewa jasa perempuan itu. Meski demikian, setelah itu preman Halimunda ini dinikahkan dengan Maya Dewi, anak ketiga Dewi Ayu. Mereka punya anak bernama Rengganis.

Sementara itu Alamanda jatuh cinta pada pemuda paling tampan dan cerdas di Halimunda bernama Kliwon. Ayah Kliwon seorang komunis yang mati dieksekusi. Cinta mereka kandas karena Alamanda diperkosa Sodancho, pria paling berpengaruh di Halimunda yang ia coba permainkan hatinya.

Untuk menutupi kejadian itu, Alamanda setuju menikahi Sang Sodancho dalam misi ingin menyiksanya. Sebab, ia tidak akan pernah memberikan cintanya. Selama pernikahan, Alamanda dua kali diperkosa suaminya kemudian hamil. Kedua janinnya hilang sebelum dilahirkan. Sodancho curiga ini kutukan Kliwon, pesaingnya dalam berbagai hal termasuk cinta.

Kliwon sendiri hidup mengikuti jejak ayahnya yang komunis. Ia memimpin demo-demo dengan serikat nelayan untuk mengusir kapal-kapal ikan milik Sodancho. Adinda, adik Alamanda, juga jatuh cinta pada Kliwon dan berusaha merebut hatinya. Akhirnya mereka menikah dan memiliki anak laki-laki bernama Krisan.

Alamanda pun akhirnya memiliki anak bersama Sodancho, mereka beri nama Nurul Aini. Gadis ini sangat tangguh seperti ayahnya. Ia menganggap dirinya dilahirkan untuk melindungi Rengganis, sepupunya. Meski demikian, Rengganis, Nurul Aini, dan Krisan, ketiganya mati.

 

via deviantart

via deviantart

 

Ai, Nurul Aini, meninggal karena sakit saat tahu Rengganis meninggalkan rumah untuk kawin dengan anjing. Mayat Ai kemudian  digali oleh Krisan dan ditaruh di bawah kolong ranjangnya. Rengganis mati di tangan Krisan. Dan Krisan mati di ujung senapan Kinkin, anak tukang gali kubur yang jago main jailangkung dan menembak. Ia langsung mendatangi Krisan sambil membawa bedil setelah tahu Krisanlah yang membunuh dan memperkosa Rengganis, gadis pujaan hatinya.

Sementara itu Kliwon, Maman Gendeng, dan Sodancho pun juga mengalami nasib yang sama: mati. Kliwon mati terlebih dahulu karena ia merasa bersalah selingkuh dengan Alamanda. Maman Gendeng mati moksa dalam meditasinya, tidak sanggup melihat preman-preman Halimunda yang merupakan sahabatnya dibantai. Sementara Sodancho mati menjadi santapan ajak-ajak, binatang favoritnya saat mencari jasad Ai yang dicuri orang.

Yang tersisa kemudian adalah anak-anak perempuan Dewi Ayu: Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan si Cantik.

 

via amazon.com

via amazon.com

 

Cerita ini adalah cerita yang panjang untuk merangkum banyak sekali kejadian di Indonesia. Bermula dari zaman pendudukan Belanda, cerita ini berlanjut sampai hari-hari setelah komunisme dan premanisme diberantas.

Setiap tokoh dalam cerita ini mewakili dan memiliki peran masing-masing untuk melukiskan kejadian bersejarah tersebut. Dengan keterampilannya merangkai kata, Eka Kurniawan mengubahnya menjadi fiksi. Inti ceritanya pun cukup mencengangkan: cinta. Ya, kamu tidak salah baca; cinta.

Cinta Dewi Ayu yang ingin mengobati kepedihan Ma Gendik membuatnya memaksakan pernikahan mereka. Meski memang cintanya ditampik dan Ma Gendik memilih bunuh diri, menjadi hantu gentayangan yang mengutuk keluarga Stammler. Sampai 21 tahun kemudian Dewi Ayu bangkit dari kubur untuk membunuh hantu Ma Gendik yang tidak bisa dibunuh oleh orang hidup.

Cinta Ma Gendik terhadap Ma Iyang membuat Ma Gendik jadi gila dan jadi hantu gentayangan. Cinta jugalah yang membuat Ted Stammler mengambil Ma Iyang sebagai gundiknya, merampasnya dari Ma Gendik, serta mengkhianati pernikahannya dengan Marietje. Dan cinta yang sama membuat Ma Iyang kemudian melarikan diri dari rumah Stammler, untuk menepati janjinya pada sang kekasih.

 

via brunetteboards.com

via brunetteboards.com

 

Cinta membuat Maman Gendeng melakukan perjalanan jauh untuk bertemu sosok dewi Rengganis, tetapi malah bertemu Dewi Ayu. Cintanya kepada Dewi Ayu membuatnya setuju menikahi Maya Dewi yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Cinta pula yang membuat Maman Gendeng berhenti ke rumah pelacuran untuk meniduri Dewi Ayu. Cinta juga yang membuat Maman Gendeng bersabar tidak menyentuh Maya Dewi sampai istrinya itu dewasa.

Cinta membuat Kliwon berhenti menjadi playboy. Ia menguntit Alamanda yang masih kecil ke mana-mana, bahkan menerima seorang perempuan gila setelah ia patah hati dari Alamanda. Cinta juga membuat Alamanda dewasa berhenti menjadi playgirl. Membuat Alamanda menyelamatkan Kamerad Kliwon dari eksekusi mati dengan menerima Sodancho di ranjangnya dan berjanji mencintainya.

Cinta membuat Adinda ikhlas melihat perselingkuhan antara Kliwon yang dicintainya dengan Alamanda. Asalkan Kliwon kembali menjadi Kliwon yang dulu, yang hidup, yang cemerlang. Cinta membuat Sodancho menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Alamanda, sekalipun itu memperkosanya. Dan cinta Sodancho kepada Nurul Aini membuatnya benar-benar bersabar hingga layak dicintai oleh Alamanda.

 

waiting

via pinterest

 

Cinta Ai kepada Rengganis membuatnya sakit tidak berdaya hingga mati. Sementara Cinta Rengganis kepada Krisan membuatnya membohongi semua orang kalau dia diperkosa oleh anjing. Cinta Krisan kepada Ai membuatnya membunuh Rengganis. Dan cinta Kinkin kepada Rengganis membuatnya membunuh Krisan.

Tentu, ini cuma sebagian dari bentuk-bentuk cinta di buku Cantik Itu Luka. Tetapi dari itu saja kita dibuat sadar: cinta punya dampak yang mengerikan. Juga bahwa dunia ini ternyata digerakkan oleh cinta sebagai dalangnya, entah cinta jenis apa. Karena bahkan dendam dan kemarahan pun berasal dari cinta. Cinta-cinta tak terbalas misalnya.

Dan cantik… cantik itu luka. Terkadang menjadi cantik adalah kutukan bagi sebagian perempuan. Seperti yang terjadi pada Dewi Ayu dan Rengganis. Semua orang menginginkan mereka secara seksual. Kalau perlu orang-orang ini akan menggunakan cara-cara kasar untuk mendapatkan tubuh mereka.

Tetapi untuk orang-orang seperti Alamanda, cantik adalah senjata untuk menaklukan laki-laki. Bahkan cantik bisa jadi alat berbuat keji. Orang-orang seperti Alamanda bisa mempergunakan kecantikan mereka untuk mempermainkan hati orang.

Selain mengemas sejarah Indonesia dalam bentuk fiksi, buku ini memberikan pembelajaran: untuk bijaksana dalam mempergunakan kecantikan yang kita miliki. Karena, cantik itu luka.

 

Judul Buku: Cantik Itu Luka | Pengarang: Eka Kurniawan | Diterbitkan: Gramedia Pustaka, Januari 2015 (pertama terbit Desember 2002); Paperback 496 halaman | ISBN: 9786020312583 | Harga: Rp 99.500

 


featured image via fetihabsari.blogspot.com