Rock Balancing: Tumpukan Batu Bernilai Seni Tinggi


via gravityglue.com

Ada banyak cara orang untuk meluapkan ekspresi seninya. Ada yang menggambar, melukis, menari, bernyanyi, hingga hobi fotografi. Yang satu ini cukup unik; beberapa orang memilih menyusun batu sebagai media seni. Menyusun batu? Ya, istilah kerennya adalah rock balancing.

Diakui bisa dijadikan sebagai media meditasi, rock balancing membutuhkan konsentrasi tinggi dalam prosesnya. Hasil akhirnya memang membuat banyak orang tidak percaya bahwa tidak ada alat tambahan yang dibutuhkan dalam proses rock balancing. Mengapa? Lihat saja sendiri:

 

rock balancing

by Leandro Inocencio via wikimedia.org

 

Wikipedia mencatat rock balancing adalah sebuah pertunjukan seni yang mengombinasikan pengaturan bebatuan dalam sebuah bentuk yang unik. Untuk melakukannya, dibutuhkan kesabaran dan sensitivitas tingkat tinggi. Para pelaku seni ini ada yang berkelompok, ada juga yang bekerja sendirian.

Salah satu yang paling terkenal, Michael Grab, menyebut yang dia lakukan adalah menggunakan Gravity Glue. Gravitasi adalah satu-satunya yang dia gunakan sebagai perekat di antara batu-batu yang disusunnya sedemikian rupa tersebut. Michael Grab mengakui, dalam melakukan rock balancing dibutuhkan kesabaran, adaptasi, napas yang perlahan, tangan yang terampil, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Bukan sekedar menumpuk batu semata, Grab mengakui seni ini adalah sebuah media meditasi yang baik.

 

rock balance

by Michael Grab via gravityglue.com

 

rock balance

by Michael Grab via gravityglue.com

 

rock balance

by Michael Grab via gravityglue.com

 

Michael Grab bukan satu-satunya orang yang melakukannya. Ada beberapa nama lain yang juga tak kalah tenarnya akibat “batu-batu seimbang” ini. Berikut adalah para rock balancer dunia dengan karya-karyanya:

via independent.co.uk

Adrian Gray via independent.co.uk

 

rock balance

Nick Seur via spindlemagazine.com

 

rock balancing

Bill Dan via pondly.com

 

Stefan Fischer via stonebalance.de

Stefan Fischer via stonebalance.de

 

rock balance

Team Sandtastic via teamsandtastic.com

 

Bukan hanya sekedar iseng-iseng belaka, ternyata seni menumpuk batu ini memiliki lomba tingkat dunia. Di The Rock Stacking World Championship, para seniman penumpuk batu ini akan berlomba untuk beberapa kategori, seperti tumpukan batu tertinggi, keseimbangan terbaik, lengkungan terbaik, hingga yang bernilai artistik terbaik menurut para juri.

Kamu tertarik mencobanya? Menurut situs Rock Balancing Art, teknik menumpuk batu ini bisa dipelajari semua orang. Sebagai permulaan, kamu bisa mencobanya dengan menemukan beberapa batu dengan bentuk membulat dengan salah satu sisinya cukup rata. Mulailah menumpuk perlahan. Michael Grab percaya, diperlukan sedikit demi sedikit gerakan yang sabar untuk mendapatkan “klik” antara satu batu dengan batu lainnya. Setelah sukses dengan tiga atau lebih batu, bongkarlah susunan ini dan ulanglah dengan komposisi batu yang berbeda.

Jika sudah mulai mahir, kamu bisa menantang dirimu sendiri dengan batu berujung lancip. Atur napasmu saat mendirikan batu di sudut lancipnya. Mungkin tidak langsung berhasil, tapi kota Roma juga tidak didirikan dalam sehari kok.

Sayangnya, tidak semua orang menyukai dan setuju dengan karya seni yang satu ini. Beberapa aturan di negara bagian Amerika Serikat ternyata melarang seseorang untuk merusak tatanan alam, ini termasuk memindahkan batu. Kecuali para seniman rock balancing mengembalikan batu-batu tersebut ke tempatnya semula, tindakan ini bisa dianggap merusak lingkungan oleh hukum.

Selain itu, ada teori lain yang melarang hal ini:

Moving rocks increases erosion by exposing the soil underneath, allowing it to wash away and thin soil cover for native plants.  Every time a rock is disturbed, an animal loses a potential home, since many insects and mammals burrow under rocks for protection and reproduction.

Stop the Rock-stacking

 

Bagaimana menurutmu? Share pendapatmu di kolom komentar ya!

 


featured image via gravityglue.com