William-Adolphe Bouguereau: Saat Keindahan Lukisan Hanya Berakhir sebagai “Bad Art”


via www.slideshare.net

Sebagai orang awam, kita seringkali bingung menilai yang mana lukisan bagus dan yang mana lukisan buruk. Ketika ada lukisan abstrak hingga ratusan juta, kita pun tak jarang menggumam, “gue juga bisa bikin begitu doang.” Tak terbayang bila ada kurator jempolan mendengar itu, pasti kita sudah ditempeleng.

Entah bagaimana cara merumuskan fenomena ini; namun yang pasti, menilai karya seni memang bukan perkara yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Perlu ada rasa dan nalar yang telah terasah (juga terarah), serta pengetahuan yang mendalam terkait teknik, perkembangan, juga sejarah dari seni lukis itu sendiri.

Nah, buat orang-orang awam macam kita, pastinya susah tuh jadi paham seni dalam sekejap. Maka dari itu, mungkin ada baiknya kita mempelajari polemik tentang William-Adolphe Bouguereau (1825-1905). Pelukis handal yang begitu sempurna dalam pewarnaan dan detil penggambaran ini, nyatanya, hanya dianggap sebagai pelaku ‘bad art‘ bagi kalangan seniman. Kenapa ya?

 

Portrait de Gabrielle Cot (Portrait of Gabrielle Cotvia) savannawilliams.blogspot.com

 

Sebelumnya, mari kita mengenal William Adolphe Bouguereau terlebih dahulu. Bouguereau (dibacanya: bug-a-row) merupakan pelukis kebangsaan Perancis yang terkenal pada abad 19. Sebagai seorang akademisi dan tradisionalis tulen, lukisan dari Bouguereau lekat dengan ihwal mitologi, religi, dan tubuh wanita; yang kemudian ia garap secara mendetil ke dalam kanvas.

Sepanjang hidupnya, Bouguereau melukis lebih dari 826 lukisan yang mengiringi masa keemasannya sebagai pelukis termasyhur di Perancis. Bahkan, menurut Eric Zafran, kurator dari Wadsworth Atheneum di Hartford:

“In his heyday, he (Bouguereau) really was the pinnacle of the French world of academic, official art. He was as famous and as well respected as the president of France at that point,”

 

La soeur ainee (Big sis', 1886) via www.walltor.com

La soeur ainee (Big sis’, 1886) via www.walltor.com

 

Bouguereau juga bagian, bahkan kemudian pemimpin, dari Salon, yakni acara kesenian di Paris yang paling bergengsi kala itu. Posisi dia di Salon cukup memiliki andil dalam membentuk pandangan tentang “apa itu seni yang baik”; yang mana saat itu, Bouguereau menganggap bahwa seni yang baik adalah yang ia dan kawan-kawannya lakukan, sedangkan seni yang buruk adalah yang Claude Monet, Pierre Renoir, dan para impresionis lainnya lakukan.

Klaim kesenian itu pun segera disambut oleh gerakan kesenian tandingan. Salah satunya adalah dengan  kemunculan Salon des Refusés, yakni kumpulan karya-karya yang ditolak oleh Salon; yang kemudian menginisiasi kemunculan karya-karya avant-garde – mengusung kebaruan.

 

“Jeanne” (1888) via 4rcadia.wordpress.com

“Jeanne” (1888) via 4rcadia.wordpress.com

 

Awal 1900, tak lama setelah Bouguereau wafat, ‘good art’ ala Bouguereau pun perlahan mulai benar-benar runtuh. Status quo yang mereka pegang bertahun-tahun hancur oleh berbagai eksperimentasi, konsep, serta imajinasi dari seniman-seniman avant garde.

Seni pun tidak lagi menjadi hal yang konvensional, yang mana keindahan dicipta lewat kepatuhan-kepatuhan dalam memperlakukan medium; melainkan sebaliknya, seni menjadi sesuatu yang memangkas keterbatasan pada suatu medium itu sendiri.

Sebagaimana pendapat para pegiat seni seperti Claudia Giannini yang berkata bahwa:

“in my personal opinion, art is about showing us something new, and Bouguereau didn’t”

Dan pendapat Mark Vallen yang tak beda jauh juga mengatakan:

“Nevertheless, Bouguereau was also imprisoned by his extremely conservative vision of what painting could be — and that was his greatest weakness.”

 

“Girl with a Child” (1881) via commons.wikimedia.org

 

Tak ayal, nama besar Bouguereau pun kemudian benar-benar tenggelam di abad 20. Di tengah kemunculan isme-isme berkesenian di eropa, seperti cubism, fauvism, futurism, purism, vorticism, dan sebagainya, khalayak pun mendadak lupa dengan Bouguereau. Bahkan bukan hanya dilupakan, di tengah perkembangan seni yang sedang gencar, namanya justru lebih lekat sebagai ‘bahan ejekan’ .

Yang lebih miris lagi adalah anekdot yang beredar saat itu:

“satu-satunya tempat untuk mengetahui Bouguereau adalah di sekolah seni, yakni ketika kamu diberikan contoh mengenai ‘bad art'”

 

Miris sekali memang. Padahal, secara kasat mata, lukisan-lukisannya bagus lho. Ah, tapi mungkin itu karena sayanya saja yang awam kali ya. Hm.