Inilah Pentingnya Penerapan Sistem Rating Film di Indonesia


sistem rating film via primoparenting.com
via primoparenting.com

Tahun 2015 lalu, isu penghapusan sistem penyensoran film kembali merebak dan mendapat perhatian banyak pihak. Sistem sensor film dirasa sudah tidak lagi relevan bila tetap diberlakukan. Bahkan lembaga yang berwenang untuk melakukan sensor pun didebat untuk segera ditiadakan.

Bagi banyak sineas tanah air, sistem sensor film sekalian dengan lembaga-lembaganya memang sudah selayaknya dihapuskan. Landasan argumennya adalah sensor yang cenderung memasung karya.

Sementara dari sisi penonton sebagai konsumen, mereka yang sepakat dengan ide penghapusan sensor berargumen sensor menyebabkan mereka kehilangan haknya. Adanya sensor membuat penonton tidak mendapatkan cerita yang utuh dari sebuah tayangan film.

 

Sistem Rating Film via edupost.id

via edupost.id

 

Sebagai pengganti sensor, diusulkan pemberlakuan sistem klasifikasi atau sistem rating film. Inilah yang kemudian menimbulkan bahan perdebatan antara pendukung dengan penentang sistem rating. Kenapa sih hal ini harus diperdebatkan? Sepenting apa memangnya pemberlakuan sistem rating ini?

Sebelum susah-susah mencari alasan kenapa sistem rating harus diterapkan, definisi tentang sistem rating itu sendiri harus kamu pahami. Sistem rating adalah sebuah sistem yang menetapkan klasifikasi terhadap tayangan atau film sesuai dengan kategori usia penontonnya. Metode klasifikasi ini didasarkan pada komponen-komponen penting yang menjadi muatan dalam sebuah film.

Bila ada salah satu komponen, misalnya penggunaan bahasa dalam film yang dinilai kurang tepat untuk anak-anak, maka film tersebut akan mendapat rating untuk remaja (R) atau rating dengan bimbingan orangtua (BO). Film yang dinilai pantas ditonton oleh penonton dari seluruh rentang umur akan diberi rating semua umur (SU).

Komponen umum yang menjadi dasar penetapan rating adalah konteks dan tema film tersebut, serta dampaknya terhadap kondisi psikologis orang yang menontonnya. Sedangkan, komponen khusus dasar penetapan rating memperhatikan muatan dalam film tersebut. Apakah ada konten yang menampilkan atau mengesankan diskriminasi, penggunaan zat adiktif terlarang, perilaku berbahaya yang mungkin ditiru, kekerasan, bahasa yang digunakan, ketelanjangan, aktivitas seksual, dan ancaman.

 

sistem rating film via filmratings.com

Penjelasan pemberian rating untuk sebuah film via filmratings.com

 

Lalu, kenapa sistem rating film harus dibandingkan dengan sistem sensor film? Sebenarnya, perdebatan yang membandingkan dua hal ini adalah sebuah kesalahan. Sensor dan rating adalah dua hal yang berbeda.

Pada sistem sensor, adegan yang mengganggu jelas-jelas akan dipotong karena dianggap tidak layak ditampilkan. Sementara pada sistem rating, tidak ada pengguntingan seluloid produk kreativitas sang pembuat film. Sistem ini hanya menggolongkan tayangan sesuai kriteria usia.

Proses pengklasifikasian ini dilakukan sebelum suatu film rilis di pasaran. Tujuan utamanya adalah untuk menjamin perlindungan terhadap masyarakat, baik yang menjadi target pemirsanya ataupun yang bukan. Perlindungan ini bisa dilakukan tanpa harus mematikan kreativitas insan perfilman.

Dengan begitu, masyarakat nantinya tidak perlu khawatir saat sebuah film beredar luas di pasaran. Tinggal melihat rating yang diberikan atas film tersebut, masyarakat sudah bisa menentukan apakah usianya sudah tepat untuk menonton film tersebut. Berdasarkan sistem rating pun, masyarakat akan diberikan sedikit gambaran, konten apa yang terkandung dalam film tersebut.

 

sistem rating film via mpaa.org

Salah satu sistem rating film yang dikeluarkan oleh Motion Picture Association of America via mpaa.org

 

Ini jadi bermanfaat pula kalau kamu ingin mengajak adik kecil atau keponakanmu menonton sebuah film, tapi kamu sendiri belum menonton film itu. Berpikir untuk menjajal nonton film itu duluan dan memastikan tidak ada konten yang mengganggu di dalamnya? Ah, merepotkan dan makan waktu. Apalagi kalau kamu harus menontonnya di bioskop. Berarti kamu harus merogoh kantong lebih dalam untuk hal ini.

Dengan adanya sistem rating, kamu bisa lebih praktis dan hemat menentukan hal seperti itu. Cukup manfaatkan informasi dari sistem rating film. Kamu sudah bisa menentukan apakah kamu bisa mengajak adik kecilmu menonton film itu atau tidak.

Begitu juga untuk kamu sendiri. Misalnya saja kamu suka menonton film yang bukan untuk anak-anak, tapi menghindari film yang mengandung muatan materi dewasa berlebihan. Supaya tidak menonton film seperti itu, kamu bisa mengandalkan rating yang diberikan atas film tersebut. Sehingga, selama menonton kamu tidak akan merasa terganggu dengan muatan-muatan mengejutkan yang mungkin ditampilkan dalam film.

 

Ssitem rating film via raisingchildren.net.au

Di negara-negara maju, bahkan ada keterangan muatan apa saja yang harus diwaspadai dalam film via raisingchildren.net.au

 

Di negara-negara lain, sistem rating film sudah diberlakukan dan berjalan efektif. Ada lembaga yang memang punya hak dan dipercayai mengatur hal ini. Di Amerika, ada Motion Picture Association of America (MPAA) yang terdiri dari asosiasi produser Amerika. Di Inggris ada British Board of Film Classification (BBFC) dan di Selandia Baru ada Office of Film and Literature Classification (OFLC). Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?

Sayangnya, di Indonesia belum ada lembaga yang punya wewenang resmi untuk menjalankan sistem rating film. Peraturan perundang-undangannya pun belum ada. Karena itu, Lembaga Sensor Film (LSF) kemudian yang harus menjalankan sistem pengklasifikasian ini. Padahal pekerjaan tersebut bukan tugas resmi LSF. Sistem rating di Indonesia jadinya tidak dilakukan efektif sebagaimana mestinya. Sayang sekali ya?

Bahkan dapat dikatakan sistem rating di Indonesia belum terlalu cermat dijalankan. Kesesuaian antara muatan film dengan kategori usia penontonnya masih berantakan.  Melalui gambar berikut, kamu bisa lihat sendiri penetapan rating di Indonesia tidak sespesifik sistem di Inggris atau Amerika Serikat.

 

Sistem rating film via wikipedia.org

Perbandingan sistem rating film di Indonesia, Inggris dan Amerika Serikat via wikipedia.org

 

Sistem rating dan pelaksanaannya pun tidak disosialisasikan dengan baik ke pihak-pihak terkait. Sehingga, masih ada bioskop-bioskop yang tidak mengawasi dan membatasi siapa saja yang boleh masuk dan menonton film yang diputar.

Mungkin sesekali kamu menyadari hal semacam ini. Contohnya saja saat menemukan anak kecil yang dibawa masuk oleh orangtuanya untuk menonton film berkategori remaja atau dewasa. Kalaupun ada bioskop yang mengawasi dan membatasi, terkadang perlawanan muncul dari pihak orangtuanya sendiri. Pihak bioskop yang kurang tegas akan mengalah dan mengijinkan mereka masuk.

Apa yang bisa kita cermati dari fenomena ini? Implementasi sistem rating di Indonesia seolah bukan ditujukan untuk melindungi masyarakat, khususnya anak-anak, dari konten yang mengganggu atau membahayakan. Sistem ini kelihatannya dibuat sekadar untuk memenuhi prosedur administratif. Mirisnya, anggapan sepele sistem ini pun datang dari pihak yang diusahakan perlindungannya. Susah juga ya?

 


featured image via primoparenting.com