Yuk Kenalan dengan 5 Jenis Gelombang Otak


oleh Shrivas Chennu via wired.com

Di film Inside Out, kamu sudah diajak untuk melihat cara emosi-emosi dalam kepalamu bekerja. Ya, emosi-emosi tersebut digambarkan bermarkas di kepala, bukan hati. Emosi, pikiran, maupun perilaku kamu terhubung pada komunikasi antar sel-sel otak atau neuron yang ada di dalam otak.

Di dalam kepalamu terdapat milyaran neuron yang berosilasi sendiri ataupun berinteraksi dengan neuron lainnya. Ketika berkomunikasi satu sama lain dalam jumlah besar dan serentak, gelombang elektromagnetik yang mereka hasilkan cukup besar untuk terukur oleh elektroensefalogram atau EEG. Gelombang inilah yang dimaksud dengan gelombang otak.

Otakmu tidak hanya menghasilkan satu gelombang pada satu waktu. Gelombang otak yang berbeda bisa muncul di area otak yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Gelombang-gelombang ini biasanya dibedakan sesuai dengan frekuensi dan amplitudonya. Walaupun demikian, ada sedikit perbedaan antar penelitian dalam mendefinisikan kisaran frekuensi jenis-jenis gelombang ini.

Setiap jenis gelombang otak memiliki fungsi dan keistimewaannya masing-masing. Pola gelombang otak bisa dipengaruhi dan bahkan dikendalikan oleh berbagai jenis stimulus seperti stimulus cahaya, stimulus suara, bahkan stimulus taktil atau sentuhan. Ada pula kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat memicu munculnya gelombang otak tertentu, misalnya meditasi. Pengendalian ini diharapkan dapat mempermudah dalam beragam aspek hidup, misalnya untuk membantu lebih mudah terlelap atau mengurangi gejala gangguan psikologis.

Yuk, kita kenalan dengan gelombang-gelombang otak ini.

 

via http://www.nyoozee.com/hiburan/film/wall-e-personifikasi-robot-dan-pesannya-untuk-umat-manusia/

via jonlieffmd.com

 

Gelombang Delta

Mulanya gelombang delta digambarkan memiliki frekuensi paling rendah, yaitu sekitar 1-4 Hz. Walaupun demikian, berkat kecanggihan teknologi, para peneliti sudah bisa mendeteksi gelombang delta mulai dari 0,1 Hz.

Ketika tidur, aktivitas di dalam otak bisa dibagi menjadi beberapa tahap: tahap 1, 2, 3, 4, dan REM (Rapid Eye Movement). Gelombang delta dan aktivitasnya ini biasanya terdeteksi ketika kita tertidur sangat lelap dalam slow-wave sleep atau tahap 3. Kamu pernah mengigau atau mengalami sleep walking? Biasanya kedua hal itu paling sering terjadi saat otakmu sedang banyak terjadi aktivitas gelombang delta.

Gelombang delta dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemulihan. Dalam keadaan tidur pulas penuh gelombang delta, tubuh dan pikiranmu dipersiapkan untuk memulai rutinitas keesokan harinya. Maka itu, aktivitas gelombang delta ini sangat penting kalau kamu ingin segar kembali setelah bangun tidur. Caranya? Kalau cara yang alami sih, tidur yang cukup. Dengan begitu, kamu tidak melewatkan tahap 3 dari keseluruhan tidurmu.

 

Gelombang Teta

Gelombang teta ditandai dengan besar frekuensi 4-7 Hz. Biasanya, gelombang ini muncul ketika kamu mengantuk atau tidur tapi belum nyenyak.

“Jangan bengong, nanti kesambet!”

Hayo, seberapa sering kamu mendengar teguran semacam ini? Aktivitas gelombang teta ternyata juga bisa terjadi saat kamu sedang bengong. Hati-hati, aktivitas gelombang teta yang terlalu tinggi bisa membuat kamu berada dalam kondisi yang sangat rileks dan mudah diberikan sugesti. Kamu jadi lebih mudah ‘dihipnosis’ dan depresi. Kalau kesambet? Entah sih, mungkin bisa jadi.

 

via www.healthyhappysleep.com

via www.healthyhappysleep.com 

 

Gelombang Alfa

Gelombang alfa memiliki frekuensi sekitar 7 Hz – 14 Hz. Gelombang ini biasanya ditemukan ketika kamu sedang berada dalam keadaan santai dengan mata tertutup, tetapi tetap terjaga. Keadaan ini akan menempatkan kamu pada titik tengah antara batas alam sadar dan alam bawah sadar.

Banyak orang yang mencoba meningkatkan aktivitas gelombang alfa dengan melakukan meditasi atau relaksasi. Gelombang alfa biasanya muncul ketika kamu berhasil membersihkan pikiran kamu dari pikiran apapun, kondisi ideal saat meditasi. Gelombang alfa ini dikatakan dapat meningkatkan kreativitas dan mengurangi gejala depresi.

 

Gelombang Beta

Gelombang beta adalah aktivitas otak manusia yang berfrekuensi antara 12,5 Hz hingga 30 Hz. Ada yang beranggapan bahwa 12,5 Hz hingga 16 Hz termasuk gelombang beta rendah, dan ada pula yang menganggapnya sebagai ritme sensorimotor atau (SMR). Karena itu, terkadang gelombang beta dianggap berfrekuensi mulai dari 18 Hz hingga sekitar 30 Hz.

Gelombang beta dengan amplitudo rendah biasanya muncul ketika kamu melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi  aktif. Gelombang beta juga bisa menandakan pikiran yang waspada hingga bahkan cemas.

Terbiasa memulai hari dengan meminum kopi? Kopi adalah salah satu stimulan yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas gelombang beta. Orang-orang yang terbiasa minum kopi sering jadi tergantung pada kopi untuk mengaktifkan work-mode mereka. Work-mode ini biasanya dipenuhi oleh aktivitas gelombang beta. Walaupun demikian, orang yang tidak terbiasa minum kopi bisa mengalami terlalu banyak aktivitas gelombang beta sehingga malah jadi stres dan cemas. Jadi coba sadari batas toleransi kafeinmu.

 

via www.fashionfonder.com

via www.fashionfonder.com

 

Gelombang Gama

Gelombang otak yang sudah lebih dari 25 Hz biasanya sudah bisa dikelompokkan sebagai gelombang gama. Gelombang gama yang biasanya terjadi di otak kamu memiliki frekuensi sekitar 40 Hz. Frekuensi gelombang gama lebih tinggi dari frekuensi yang sewajarnya dihasilkan saat neuron berkirim sinyal. Ada peneliti yang mengatakan bahwa mungkin frekuensi yang terekam bukan berasal dari aktivitas neuron. Walaupun demikian, gelombang ini masih menjadi misteri.

Gelombang gama umumnya berkaitan dengan proses mental yang lebih rumit dan melibatkan berbagai bagian otak. Konon, gelombang gama berkaitan dengan pencerahan dan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Penelitian pada biksu-biksu Tibet menunjukkan adanya korelasi antara gelombang gama dengan kondisi mental spiritual. Seseorang bisa mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dengan melatih diri menghasilkan gelombang gama tersebut, salah satunya adalah dengan latihan meditasi jangka panjang.

 

via itsusync.com

via itsusync.com

 

 

Featured image oleh Shrivas Chennu via wired.com